Agenda (Re)Kontruksi Diri Di Era Industri 4.0 (1)

sumber gambar: http//www.indonesia.go.id

Agenda (Re)Kontruksi Diri Di Era Industri 4.0 (1)

Tulisan ini sudah pernah saya sampaikan pada seminar nasional di UNIPA Surabaya. Saya menuliskan kembali tema ini, karena masih sangat menarik untuk dibahas terkait revolusi industri yang bukan hanya dibahas soal perkembangan teknologinya, tetapi bagaimana manusia sebagai diri mampu mengagendakan dalam dirinya apakah berubah? Atau tidak? Kita diskusikan alur pikirnya ya…

Seperti diketahui bersama bahwa era industri 4.0 membawa konsekuensi adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat. Kemudahan dan praktis membuat kita terjebak dalam situasi yang tidak dapat dihindari, yakni berpikir pragmatis, praktis, serba mudah, serba otomatis, dan lainnya.

Sementara itu, era industri 4.0 dikuasai oleh anak-anak generasi Z. Menurut Ahli, generasi Z memiliki sifat sangat tergantung pada teknologi, menghargai keragaman, orientasi pada uang hanya untuk kebahagiaan diri, dan etos kerja mereka didasarkan pada kecintaannya pada hobi sehingga menjadi pekerjaan yang ia tekuni.

Kalau semua generazi Z ini mengutamakan kepentingan pribadinya, berpikir pragmatis, praktis atas kemudahan-kemudahan yang disuguhkan oleh revolusi ini, maka bagaimana dengan kesemestaan? Siapa yang bertanggungjawab? Mengingat generasi ini akan tumbuh dan menguasai masa depan.

Kesejahteraan selalu menjadi alasan tiap manusia untuk bertahan secara ekonomi. Kesejahteraan selalu menjadi cita-cita tiap orang. Nah, bagaimana kesejahteraan ini akan terbentuk jika penciptaan nilai-nilai yang berkembang sekarang tidak lagi mengedepankan nilai-nilai yang mengutamakan kesemestaan?

Semua yang dipelajari, yang muncul dan menjadi kebutuhan adalah persoalan algoritma, big data, robotik, demokrasi liberal, kesetaraan gender, bahkan menganggap isu kebebasan. Lalu dimana Tuhan? Seorang mahasiswa kalau ada soal dari dosen, kesulitan menjawab, cepat-cepat buka google, bukan lagi cepat-cepat buka sajadah. Tidak lagi ditemui kepekaan atas pertolongan Tuhan. Tapi lebih cepat mengingat apa-apa yang ia agungkan, yakni teknologi.

Jika semua manusia generasi Z berperilaku kekinian, tangguh terhadap teknologi, maka secara tidak langsung mereka telah menjadi manusia homodeus. Di mana Tuhan? Tergantikan dengan teknologi atau tidak, menjadi pertanyaan yang penting untuk dijawabkan.

Lalu, teknologi membawa tumbuhnya karya-karya pemikiran yang berbasis pada egosentris. Ini bisa saja dikatakan tumbuhnya proyek-proyek membunuh Tuhan. Astaghfirullah….banyak sekali muncul buku-buku algoritma, jurusan kuliah tentang algoritma. Algoritma menjadi sosok yang paling  penting. Adakah Tuhan dalam algoritma tersebut? Bahkan saat skripsi, atau tesis yang ditulis oleh mahasiswa saya, ada pertanyaan yang selalu saya ajukan. Dalam tulisanmu ini, ada nama Tuhan yang hanya ditulis dalam kata pengantar. Hanya disebut di dalam ucapan terimakasih. Itupun hanya 1 lembar. Yang lainnya? Yang halaman lain 100 lebih ini, di mana Tuhan? Selalu saja mengagung-agungkan cara, teknologi dan metode. Dituliskan dengan bangga temuan hasil teknologi canggih yang ia kuasai. Satu pertanyaan saja, sudahkah saat nulis ini Tuhan ikut bersama jiwamu?

Jawabannya ada dalam diri masing-masing.

Semoga bermanfaat

rumahmediagrup/Anita Kristina