Aku Betah di Sekolah

Siang itu suasana tampak lengang, tidak seramai tadi pagi. Shift pagi, kelas 9 dan 8, sudah pulang. Tinggalah shift siang, kelas 7, sedang melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing.

Ada beberapa administrasi yang harus kuselesaikan siang itu. Setelah melakukan beberapa konseling sebelumnya, aku harus menulisnya dalam beberapa catatan dan laporan.

Penat mata ini melihat layar laptopku sedari tadi, aku pun keluar ruangan untuk mengistirahatkan mataku. Ketika melangkah keluar, aku melihat ada beberapa siswa kelas 8 yang masih duduk-duduk di depan ruangan UKS.

“Piket PMR nih? Kok belum pulang?” Tanyaku pada mereka.

“Ya bu, piket.” Jawab salah satu siswa.

“Loh, Ardi juga piket lagi? Perasaan ibu, hari Senin piket…Selasa piket, sekarang piket juga?” Tanyaku pada Ardi, karena hampir setiap hari kulihat dia ada ada di ruang UKS.

“Males pulang ah bu, pulang juga rumah sepi.” Jawabnya sambil tersenyum.

Begitulah diantaranya jawaban beberapa siswa ketika kutanya mereka yang masih betah di sekolah.

Kondisi saat ini, dimana kedua orang tua bekerja, tentu memberi beberapa pengaruh. Sewaktu anak masih usia balita hingga SD, mungkin orang tua masih membutuhkan sosok lain untuk melayani dan mengawasi anaknya selama di rumah.

Tetapi, ketika anak menginjak usia remaja, terkadang orang tua menganggap anak mereka sudah besar dan bisa tidak mandiri sehingga membutuhkan lagi seseorang yang melayani dan mengawasinya.

Ada beberapa anak yang memang mandiri. Sejak subuh kedua orang tuanya sudah berangkat kerja, hingga ia menyiapkan sendiri perlengkapan sekolahnya. Terkadang sarapan ia beli ketika berangkat sekolah, dan dimakan di sekolah.

Tetapi ada pula setelah kedua orang tuanya berangkat, ia tidur lagi sehingga tidak berangkat ke sekolah karena kesiangan. Sementara itu, orang tua tidak tahu bahwa anaknya tidak berangkat ke sekolah, sehingga orang tua pun merasa aman-aman saja.

Ada anak yang sepulang sekolah melakukan hal-hal positif, seperti kursus bahasa, mengikuti bimbel, ataupun di rumah saja melakukan kreativitas mereka. Tetapi, ada pula yang sekedar nongkrong-nongkrong dengan teman sambil merokok.

Fenomena ini sering kita temui saat ini. Sehingga banyak kenakalan-kenakalan siswa yang muncul. Sebenarnya kenakalan itu bukan serta merta karena kedua orang tua yang bekerja, tetapi ada pula yang ibunya di rumah melakukan hal yang sama.

Kita dapat mengikisnya dengan komunikasi yang kita jalin sedari kecil. Komunikasi disini bukan sekedar listening, tetapi juga hearing. Mendengarkan dengan hati, bukan mendengarkan dengan telinga.

Mendengarkan dengan hati akan menjalin kedekatan dengan anak. Kedekatan ini yang akan memberi alarm pada anak apabila ia melakukan hal-hal yang dapat mengecwakan kedua orang tuanya. Dibandingkan dengan mendengarkan hanya dengan telinga, hati tidak dilibatkan, sehingga yang muncul hanya komunikasi satu arah. Komunikasi arah ini akan menimbulkan komunikasi perintah, sehingga anak merasa tidak dipahami keinginannya. Hal inilah yang menyebabkan mereka ‘keluar’.

Usia remaja justru membutuhkan perhatian lebih. Mereka membutuhkan orang tua yang dapat dijadikan teman. Dengarkanlah mereka, ajaklah mereka bicara tanpa menggurui. Nilai-nilai kehidupan dapat kita berikan melalui contoh, bukan perintah.

Marilah kita sediakan waktu untuk buah hati kita. Kesibukan kita bekerja bukan penghalang untuk menjalin kedekatan. Bukan banyaknya waktu kebersamaan, tapi kualitas kebersamaan yang dibutuhkan saat ini.

One comment

Comments are closed.