Aku dan Dia dalam Satu Warna yang Sama

Aku dan Dia dalam Satu Warna yang Sama

Oleh : Ribka ImaRi

•Juli 2007

“Din, tahu alamat ini, ga?”
“Oh … ini mah dekat banget sama indekos gue, Na.”
“Serius Lo, Din?”
“Iya. Serius.”
“Ya udah tolong anterin gue dong. Gue belum paham daerah sana. Tar muter-muter nyasar lagi. Lagian gue males banget bawa motor lewat jalan Panjang. Macet.” Aku menerangkan panjang lebar alasanku pada dia, teman kantorku, sambil menunjukkan alamat dan denah di kartu undangan pernikahan sahabatku semasa indekos di Semarang dulu.

“Mang kapan acara nikahnya?”
“Hari minggu depan. Beneran loh anterin gue ya.”
“Iya gampang. Lo naik bis aja arah terminal Lebak Bulus. Tar Lo kabari kalau udah mau sampai di Giant Lebak Bulus. Turunnya di Giant-nya aja. Ga usah sampai masuk terminal. Gue jemput di pintu masuknya.”
“Oke, sip! Makasih ya.”

Ketika bertemu di tempat yang kami sepakati, aku dan dia memakai baju dengan warna yang sama. Warna hitam.

‘Bisa pas kebetulan gini ya. Sama-sama pakai baju warna hitam’ gumamku dalam hati.

Mungkin sehati. Walaupun hanya teman sekantor. Hehe

***
•Desember 2007

‘Ih … pakai kaos warna hitam. Cakep banget sih! Kenapa gue jadi deg-degan gini ya?’ Desir-desir lembut di hati itu mulai jadi pertanda bahwa hubungan pertemanan biasa akan berlanjut menjadi teman spesial.

***
•6 April 2008

[Matamu, Na. Gue suka.] Sebaris kalimat SMS darinya membuat jantungku mendadak berhenti sejenak. Ketika aku belum sempat membalas smsnya, justu netra kami saling bersiborok.

Ya, saat itu kami hanya terpisahkan jarak selingkaran meja gala dinner. Karena kami sedang duduk dalam meeting nasional perusahaan kantor di Hotel Mercure, Jakarta.

Aku ingat sekali, kala itu aku yang memakai kemeja warna hitam dengan garis samar warna abu-abu. Hari itu kami berjanji yakin bisa menjalin kasih meski berbeda agama.

***
•17 Agustus 2010

Beberapa jam setelah ijab kabul, aku dan dia berfoto bersama. Lagi-lagi tak disangka. Seusai berganti baju pengantin masing-masing, kami kompak memakai baju berwarna hitam. Inilah yang dinamakan jodoh.

Meski rintangan yang kami lalui terasa berat. Menikah tanpa restu bapakku, tanpa kehadiran bapakku dipernikahan dan tak ada pilihan lain selain menerima wali hakim.

Tapi kami yakin Allah akan selalu memberi pertolongan-Nya di saat kami yakin bisa terus bersama. Kami yang sama-sama pernah jadi penyuka fanatik warna hitam. Karena punya banyak koleksi pakaian berwarna hitam semasa muda dulu. Kami yang sama-sama pernah sekantor. Teman sekantor sejak tahun 2007 yang menjadi teman hidup sampai sekarang tahun 2019. Alhamdulillah terlewati sudah 9 tahun usia pernikahan yang berat bagi kami. Bismillah tetap bersama selamanya hingga ke Jannah-Nya kelak. Aamiin.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 18 Oktober 2019

#Nubar
#NulisBareng
#Level4
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3
#Day18
#JumatTemaWarnaFavorit
#RNB33
#rumahmediagrup

Izin setor kepada para Admin :
Emmy Herlina
Asri Susilaningrum
Lelly Hepsarini
Hadiyati Triono
Syarifah Nur Adni
Hayfa Ega Farzana Rafie
Siti Rachmawati M
Fuatuttaqwiyah El-adiba
Melani Pimpom Pryta Dewi