Aku Ingin Lepas (Part IV)

Oleh : Hamni Azmi

Dana yang harus dikumpulkan masih cukup besar dalam ukuran kami. Saya sering terbangun dalam tidur karena kebawa mimpi.

Menuju tidur lama banget, di tengah-tengah tidur tiba-tiba terjaga. Padahal kalau dipikir ya, dengan berjalannya waktu, saat jatuh tempo juga akan selesai, yang tinggal 1 tahun aja lagi

Tapi ko saya tetap aja ga sabar menunggu tahun itu. Takutnya ga sampai umur saya ke sana. Dan selamanya tidak lepas dari riba.

Pernah ada seseorang yang bikin statement kaya gini “Kalau A*N ga nyekolahkan SK-nya, dia itu ga cerdas .

“Degg” rasa gimana gitu dengernya. Jadi kesannya dipukul rata aja persepsi itu kena sama semua kita.

Ada juga yang bilang “rugi, kalau mau ngelunasin pinjaman di B**k. Ntar malah kena denda”

Dan masih banyak ungkapan lainnya, yang terus terang kadang bikin tambah pusing.

Alhamdulillah, Allah selalu hadir saat hati menjadi galau. Ia tenangkan lagi. Ia sirami lagi hati yang gersang ini.

Waktu terus berjalan satu bulan, dua bulan hingga enam bulan.

Dari tempat praktek suami, dan praktek saya Alhamdulillah pelan namun pasti dapat mengumpulkan nominal yang ditargetkan.

Rasanya kerja ga ngoyo banget. Masih tetap kerja sampai maksimal jam 6 sore. Malam kita sudah istirahat, kumpul bersama anak-anak.

Tidak sampai 6 bulan Alhamdulillah kami bisa lunasi semua pinjaman. Rasanya ga percaya ko bisa cepet ya. Dari awal niat hingga proses eksekusi hanya perlu waktu 6 bulan.

Ya Allah, sujud syukur. Walau menurut ukuran manusia mungkin seperti tombok, tapi sebenarnya Allah yang melengkapkan.

Sudah lega, bisa bernafas bebas. Bisa tidur lelap. Ga insomnia lagi. Dan kita mulai semua dari “Angka Nol”.

Tahun 2016 kami sudah hidup di alam kebebasan. Itu yang secara nyata kami lihat. Walaupun masih banyak sisi riba yang mengancam diri.

Setelah episode ini dilewati, kami berazzam insya allah tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Juga anak cucu kami semoga dihindarkan dari apa yang telah diperbuat.

Dan setiap ada keinginan akan sesuatu, selalu melaporkan kepada-Nya agar bisa ia berikan dengan cash. Tanpa hutang, tanpa pinjam, tanpa riba.

Kalau memang belum mampu sekarang ya diempet ae dulu lah.

Buang pikiran yang sering kali bisa muncul .

“Gimana bisa punya rumah kalau ga ngutang.”

“Mana mungkin bisa punya mobil, kalau pemasukan cuma segini”

Itu namanya pembatasan kemampuan diri. Pembatasan kekuasaan Allah.

Aku sebagaimana prasangka hambaku.”

Kalau kita sudah menganggap diri tidak mampu, lalu bagaimana cara Allah mau memampukan. Wong kitanya aja ga yakin.

Hingga saat ini, Allah masih melindungi kami dari segala bentuk pinjaman dana. Bukan karena kami yang mampu, tapi karena Allah yang selalu menjagakan.

****

Untuk lepas dari jerat riba, yang paling utama adalah niat yang bersungguh-sungguh ingin melepaskan diri dari riba.

Kerahkan segala usaha, kemampuan untuk bisa melepaskan diri. Apa yang bisa dijual dan menghasilkan uang, dilakoni. Tingkatkan kualitas kerja. Itu salah satu bukti kesungguhan niat kita.

Jauhi godaan untuk terjerat lagi, tahan diri dari mengumbar keinginan memiliki sesuatu dengan cara meminjam dana.

Apa yang bisa dibagi, bagikanlah. Tidak ada uang, makanan, pakaian, barang, ilmu atau kebaikan apa saja yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Karena satu kebaikan akan berbalas 10 kali lipat kebaikan. Maka teruslah berbagi kebaikan selama masih diberikan kesempatan.

Perkuat hubungan cinta dengan Robb sang penolong sejati. Minta apa pun kepada-Nya. Selalu berprasangka baik atas kemapuan diri dan kekuasaan Allah.

Maka Keajaiban itu akan datang, menakjubkan setiap kita yang bersungguh-sungguh mengahrap hanya kepada-Nya.

Saya doakan semoga yang masih terjerat dalam riba, hutang dan yang sedang berusaha melepaskan diri dari semua itu. Disegerakan oleh Allah melewati segalanya dengan indah. Dan kita semua hidup dalam kedamaian jiwa raga, serta keberkahan dari Allah.

Amin ya rabbal alamin

#Tamat

Perjalanan Tanah Bumbu-Banjarmasin, 14 Desember 2019

Rumahmediagrup/ Hamni Azmi