Antara aku, kita dan dia

Seharusnya apa yang terucap dapat dia pertanggungjawabkan. Setelah pertemuan pertama, kedua dan seterusnya, dia mulai melepaskan rasa yang sedikitpun tak pernah aku mengerti.

Kenapa tiba-tiba kau mengutarakan perasaan sayang itu kepadaku. Sebenarnya kau-pun sudah tahu, bahwa aku memiliki penjaga yang selalu berlagak setia di samping-mu.

Kenapa harus ada perasaan yang tak mungkin di perbolehkan dalam kebersamaan kita. Dia-lah yang pertama kali membuat hati tak pernah meracau separah ini.

Ya, dia-lah yang harusnya memberlakukan lantang sebuah janji. Namun hubungan yang hanya bagaikan bayangan semalam itu, membuat sedikit memicu kesetiaan yang mulai terancam pergi, namun kata tak mungkin memberi jatuh.

Aku hanya melihatmu yang terhalangi cintanya yang lama. Aku bahkan tahu bahwa engkau-pun merencanakan sebuah suasana yang membuat dia merasa tersalah.

Pergi sajalah jika memang itu membuat-mu merasa sangar. Tatapan yang sendu mulai redup di kedua panas parasnya yang elok di tatapan mata sepiku.

Aku kini hanya berusaha agar dapat mengerti
arti menjauhimu yang terasa semakin mendekat. Perasaan yang tak kunjung terbakar membuat deretan hati semakin merasakan lelap.

Menikmati segala keindahanan di tidur malam
Serasa tersentak datang bergegas meracik mimpi. Melihat engkau menyatakan sayang namun hanya memberi tatapan tanpa ada kata menjauhkan dia.

Lelah sekejap saja terlambat menghilang
Aku patahkan sayap itu agar kau tak memberikan terbang. Keterpaksaan untuk selalu datang, menatapmu walau dari kejauhan.

Dia memang menjadikan kamu merasakan hujan. Meski aku yang pernah mendapatkan sebuah senyuman menghadang. Kubiarkan berlaku sampai bisa membuktikan, mana yang akan menjadi seekor pemenang.

Pict : haokan