Aku Kuat, Ma

Jum’at lalu, puasa pertama untuk umat muslim di tahun 1441 Hijriah. Hari itu juga menjadi hari pertama untuk si putri bungsu mulai belajar puasa. Usianya 6 tahun lebih.

Selama ini, kami hanya membicarakan soal Ramadan padanya dengan gembira, tapi tidak memintanya untuk ikut berpuasa. Meskipun dengan embel-embel belajar. Belum waktunya. Belum ada kewajiban.

Rupanya ia penasaran.

Dua hari menjelang Ramadan ia sudah wanti-wanti untuk ikut dibangunkan sahur. Kami hanya tersenyum, karena tahu kalau si bungsu ini paling sulit dibangunkan. Saya sebagai emaknya sudah terbayang kerepotan sahur pertama nanti.

Maka, ketika Jum’at dini hari itu, sungguh tak kami sangka. Hanya dengan menepuk lembut kakinya saja ia sudah terbangun. Semangat betul si adek mau puasa. Alhamdulillah, sahur pertama tanpa drama.

Siangnya, sang ayah menelpon dari tempat kerja. Dengan bangganya adek bercerita masih tahan tak makan tak minum. Dibujuk ayah untuk berbuka pun, ia tak mau.

Sore hari ketika si kakak menyiapkan penganan untuk buka puasa, dia cuma melirik sedikit lalu pergi bermain. Energinya dari pagi hingga sore itu hampir tak terlihat berkurang.

“Sayang, kalau lapar boleh makan, kok. Jangan ditahan juga kalau haus benar. Adek masih belajar puasa, jadi tidak harus sampai azan magrib,” bujukku.

“Aku kuat, Ma, … nggak lapar juga,” hindarnya dari bujuk rayu emak nan ayu.

Memang, terbukti dia kuat puasa penuh dari subuh hingga magrib, mulai hari itu hingga hari keempat ini.

Alhamdulillah.

Ada kemudahan padanya, tak seperti pada abang-abangnya dahulu.

Foto : Jonathan Borba/Unsplash

rumahmediagrup/fifialfida