Aku Memilih Dia

Masa SMA tidak seputih baju yang aku pakai. Aku sering nongkrong di Mall, pacaran, bahkan beberapa kali ada dikerumunan pembalap liar.
Bermula dari sekolah yang aku pilih, sebuah SMA swasta cukup terkenal di Tegal. SMAku terkenal dengan seragamnya yang kekinian ala pelajar Jepang, ditambah embel-embel Sekolah Berstandar Internasional. Komplit, aku jatuh cinta dan memaksa orang tua mendaftarkan diriku menjadi siswa SMA Berbudi Luhur.

Aku bangga ada di komunitas ini. Masih mengenakan seragam, sepulang sekolah aku dan teman-teman, biasa kongkow di MC Donal atau Pasific Mall yang lokasinya hanya beberapa meter dari sekolah. Komunitas yang aku ikuti anggotanya putra dan putri dari beberapa sekolah.

Di hari sabtu, teman putra berkumpul di jalan belakang perumahan dinas Pemkot (sabtu dan minggu daerah ini sangat sepi) untuk balapan motor. Rutinitas yang sangat mengasyikan, meski jujur agak menakutkan. Kaum Hawa biasanya hanya sebagai penonton, hanya satu dua orang saja yang biasanya mencoba menjadi pemain.

Satu lagi, dosa ku di masa SMA adalah sering pura-pura lupa jika uang untuk memesan paket double cheeseburger atau membeli kaos couple merupakan uang SPP yang belum dibayarkan. Harus bagaimana lagi, tidak mungkin juga aku selalu menjadi seorang fakir yang menerima donator terus menerus. Meski untuk itu aku harus sering mencari alibi meminta uang pada bapak.

Kebiasaan-kebiasaan jelek ini berjalan sampai 2 tahun, hingga pada suatu hari, aku harus melihat beberapa teman laki-laki terlibat tawuran. Mereka melempar batu, botol bahkan ada beberapa yang membawa senjata. Rasa takut menguasai perasaanku, melihat darah teman mengalir terkena lemparan batu.

Kakiku melangkah mundur, terasa lemas melihat amukan pelajar didepan mataku semakin tidak terkontrol. Berlahan aku berjalan menjauh, menjauh dan menjauh. Tanpa aku sadari sudah berada di tempat hijau, disini ada banyak orang tapi tidak lagi terlihat batu melayang. Ada suara tapi bukan teriakan. Aku berada di teras sebuah masjid.

Suasana berbeda dari sebelumnya tercipta disini.
“Assalamualaikum”
Berdiri tidak jauh dari tempatku duduk, gadis berseragam sama dengan ku. Bedanya dia mengenakan jilbab rapi.
“Waalaikumsalam” jawabku pelan.
Kembali kepalaku menunduk, tidak ingin orang-orang disekitar melihat betapa kacau wajah dan pikiranku. Bayangan anak-anak tawuran masih menghias di otakku, batu dan botol berterbangan, beberapa anak berlari mengejar lawannya.
“Dari SMA mana ?” Suara lembut itu kembali menyapa.
“SMA Berbudi Luhur.”
“Wow deket dong, aku SMA 15.”
Kepalaku terangkat, melihat wajah teduh gadis berjilbab putih itu dengan lebih seksama.
“Wita” tangan kecilnya menjabat tanganku,
“Sasha”
Senyum ramah tersungging di bibir Wita. “Sendirian ? ikut kajian putri yuk” ajaknya lembut. Tangan Wita menunjuk ke area dalam masjid yang terisi beberapa anak putri berseragam abu-abu.
Aku mengangguk, meski jujur aku masih bingung. Mungkin karena wajah Wita yang teduh, aku merasa saat ini butuh teman yang bisa menguatkan.
“Tapi aku tidak pakai jilbab.” Ragu kakiku melangkah mengikuti Wita.
“Tidak apa-apa, kajiannya santai kok.” Wita kembali tersenyum.
Aku menunduk, merasa semua mata melihat ke arah kami, saat kakiku melangkah ke dalam.
Seorang perempuan berusia 30 tahunan duduk diantara lingkaran, wajahnya lembut terlihat bercahaya meski ada sedikit bintik hitam di pipi atas, Jilbabnya besar menjuntai hampir sepanjang gamis yang dikenakan.
Wita berbisik menjelaskan kalau perempuan itu bernama ibu Yuni guru Biologi SMA 15, beliaulah yang mengisi kajian.
Meski ibu Yuni berbadan kecil, saat mengisi kajian suaranya terdengar nyaring sekali. Malah berisik menurutku, apalagi dia menjelasan pergaulan kuno di zaman now.
Terdengar kolot sekali, saat perempuan dan laki – laki tidak boleh berduaan.
“ Meskipun hanya ngobrol, makan, nonton ?” tanyaku lirih.
“Iya” jawab ibu Yuni tegas. “ Saat kalian berbicara berdua, hanya berdua, pasti akan keluar kata candaan, bahkan akan berlanjut pada rayuan” ibu Yuni menatap wajahku tegas. “ Saat rayuan keluar, kalian tidak bisa lagi membedakan antara yang halal dan tidak.”
Kulirik Wita yang duduk disebelahku, wajah Wita terlihat antusias sekali. Tangannya sibuk mencacat. Lembaran buku dipangkuannya terlihat penuh, kupikir dia mencatat semua kata ibu Yuni tanpa sisa.
Mataku menyusuri jamaah kajian satu persatu, semua terlihat antusias. Beberapa peserta bercerita pengalamannya, peserta yang lain memberi pendapat. Kajian satu setengah jam ini penuh dengan diskusi .

Ada sesuatu yang menyejukkan, menatap teman-teman baruku. Mereka jauh dari sikap arogan, Mendengarkan jika ada teman sedang berbicara. Memberi pendapat sesuai dengan pengalamannya, tidak ada yang melecehkan saat ada pendapat yang bertolak dengan pendapat yang lain. Kemudian Ibu Yuni akan mempertegas pendapat peserta kajiannya dengan beberapa ayat Al Qur’an dan Hadist.

Perasaan tenang yang tidak ingin aku ganti.
“ Orang-orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.” (HR. Al-Bukhari). Kalimat itu demikian dalam menghujam ke hati, Aku menatap bibir ibu Yuni yang dengan fasih menjawab pertanyaanku agar bisa menjadi anak yang lebih baik.

Aku diam, menatap wajah-wajah sejuk didepanku. Otakku melompat-lompat, menyuruhku meninggalkan rutinitas bersama teman-teman geng. Meninggalkan kajian yang hanya membahas game terbaru dengan bahasa propokatif, membicarakan senjata atau level yang sedang kita mainkan. Menghapus jadwal nonton balapan liar, dan meminta maaf pada bapak dan ibu yang sering aku bohongi, terutama masalah uang.

Mungkinkah ini yang disebut hidayah ?, ketika hati merasa menemukan sesuatu yang menentramkan, Ketika tekad menendang untuk segera melakukan perubahan.

Ya Allah, terimakasih sudah mempertemukan aku dengan mereka, muslimah yang menutup aurat, menjaga pergaulan, dan menggunakan waktunya untuk sesuatu yang bermanfaat.

Rumahmediagrup/srisuprapti