Aku Tak Sesabar Mereka

Aku Tak Sesabar Mereka

Liburan kali ini kami ke rumah orang tua yang jaraknya hanya dua jam dari tempat tinggal.

Membawa dua bocah yang masih balita cukup merepotkan walaupun jarak dekat. Bayangkan, barang-barang keperluan mereka melebihi bawaan bapak ibunya.

Kami sering bertandang ke rumah orang tua, walaupun itu tiga atau empat bulan sekali. Itu karena kondisi kami yang masih memiliki anak kecil. Bapak dan ibu pun sudah sepuh, jadi sulit untuk bepergian. Mereka tinggal bersama kakakku yang ketiga.

Bapak dan ibu menyambut gembira kedatangan anak, menantu dan cucunya. Lucunya mereka tidak bisa mengingat yang mana  Allia dan mana Amel.

“Ini siapa ya. Anaknya siapa.”

Bapak selalu mengucapkan kalimat ini.

Saking seringnya, aku jawab dengan nada kesal.

“Allia berambut panjang, sedangkan Amel berambut pendek, Pak.”

Saat anak-anak bermain di teras dan kami juga di sana, bapak sering melontarkan kalimat tanya yang sama untuk hal yang didengarnya. 

“Apa itu….” kata bapak berulang-ulang.

Aku pun sudah menjawabnya lima kali!

Saking kesalnya, aku masuk ke dalam rumah. Ibu dengan tongkatnya mendekatiku yang bersandar di sofa tengah.

“Apakah kamu kesal dengan kami, Indri?” tanya ibu.

Aku masih diam.

“Pernahkah anak-anakmu menanyakan hal yang menarik perhatiannya berulang-ulang. Kau abaikan mereka.”

Ibu menunggu jawabanku.

Aku menggeleng. “Mereka kan masih kanak-kanak, Bu. Belum mengerti dan belum banyak tahu.”

“Ya benar, lalu kau kesal juga kan, kemudian marah dan meminta mereka berhenti bertanya.” Ibu terdiam sejenak.

“Itulah yang terjadi dulu pada kami. Kau menanyakan banyak hal dan berulang-ulang, tapi kami tak pernah berhenti menjawab walaupun jawabannya sama.” 

Aku tertunduk dan diam.

“Sekarang kami sudah tua, pendengaran dan penglihatan pun sudah berkurang, tapi kami masih ingin merasakan kehangatan dalam keluarga. Kedatanganmu sebagai si bungsu dan cucu kami adalah anugerah tak terhingga. Sayangnya, sifat sabarmu belum terasah. Mungkin karena kamu sibuk berkarir yang katanya di zaman sekarang makin keras tantangannya.”

Pelan sekali ibu berbicara dan aku serasa ditampar kenyataan.

Inikah penyebab bapak dan ibu tidak mau tinggal bersamaku, memilih tinggal dengan kakakku yang tidak mau menikah lagi sejak suaminya meninggal?

Astaghfirullah. Benar kata ibu, aku belum siap sebagai ibu sebenarnya dan bakti pada orang tua pun belum kujalani dengan ikhlas.

Kupeluk ibu, lalu bersimpuh di pangkuannya, memohon maaf dan mohon ridhonya.

Ibu mengelus kepalaku dan menciumnya.

“Ayo sekarang kita ke teras lagi. Mereka masih asyik di sana.”

Ibu meraih tongkatnya dan mengajakku keluar.

Bapak masih duduk di kursi ditemani kakakku di sebelahnya, tertawa setiap kali kakak menjelaskan apa yang diperbuat anak-anakku yang sibuk berlarian.

Pelan kupeluk bapak  dari belakang, dan kubisikkan, “Maafkan Indri, Pak.”

rumahmediagrup/hadiyatitriono