Aku Tidak Membuangmu, Ibu

Aku Tidak Membuangmu, Ibu.

Kematian Mas Yono sudah enam bulan lalu. Menjadi orang tua tunggal dengan dua orang anak bukanlah hal mudah bagiku. Ditambah lagi ibu mertua yang ikut dengan kami sejak suaminya meninggal, dan saat itu aku baru melahirkan anak yang kedua.

Mas Yono anak lelaki mereka satu-satunya yang hidup, dan menjadi tumpuan orangtuanya. Namun, aku dan Mas Yono bukanlah orang yang bergelimang harta. Kami tinggal di bedeng yang rata-rata pekerjaannya hanyalah kuli atau pemulung. Kami hidup seadanya tanpa ada apanya.

Kini saat Mas Yono berpulang, beban yang dulu di pundak suamiku dan terkadang berbagi denganku saat itu, sekarang harus ku pikul sendiri. Kedua anakku belum beranjak dewasa, tapi mereka juga telah membantu menjadi pemulung di sela tugas rutin sebagai  pelajar. Kedua anakku memahami kondisi ini, namun bagaimana dengan ibu. 

Dilema menderaku, apalagi nanti pasti ada gunjingan orang tentang sikapku pada ibu setelah anaknya tiada. Akhirnya kuberanikan diri untuk bicara dengan ibu di sore itu.

“Ibu, sebelumnya Asih mohon maaf. Sejak kepergian Mas Yono, perhatian kami pada Ibu berkurang. Tidak ada yang bisa menemani seharian, malam pun kami terlalu lelah hingga Ibu terabaikan. Kalau boleh, Asih hendak mengutarakan maksud, supaya ibu ada yang merawat dan ada teman yang menemani.” Pelan-pelan sekali aku bicara, dengan debaran tak menentu. 

Mata tua ibu menatapku lekat, menangkap arah bicaraku, sedangkan tangan tuanya yang telah keriput kupegang perlahan. 

Kulanjutkan maksudku pada ibu. “Kemarin Asih bicara dengan Ibu Zein, pemilik rumah gedung di depan warung sate Haji Imron. Dia mengelola tempat untuk orang lanjut usia yang tidak mampu, Bu. Katanya, tempat itu yang biasa disebut Panti Werdha bukanlah tempat yang buruk untuk orang lanjut usia. Di sana ada teman sebaya ibu, bila sakit pun akan dirawat dengan baik. Jadi Asih mohon Ibu mau untuk pindah ke sana ya.”

Sedikit terisak dan suara bergetar, ku tunggu reaksi ibu. Terkembang senyuman tipis di wajah ibu, disertai dengan anggukan lemah. 

“Baik bu, Besok saya temui Ibu Zein dan mengurus administrasinya. Sewaktu-waktu kami pasti berkunjung ke sana.”

Keesokan harinya, kami bertiga mengantar ibu ke Panti Werdha. Kedua anakku merangkul neneknya dengan erat. 

“Nenek di sini dulu ya. Kami akan cari uang yang banyak, supaya kita bisa berkumpul lagi.” 

“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku, Mas Yono.” Kututup wajah yang penuh linangan air mata , saat membelakangi gedung Panti Werdha untuk kembali pulang.

#NulisBareng

#rumahmediagrup

#BerkreasiLewatAksara

#menulismengabadikankebaikan

rumahmediagrup/hadiyatitriono