Akulah Kejujuran

Akulah Kejujuran

Ilmu telah mengajarkan tentang ku kepada mu. Kuyakin kau tahu itu. Adab yang tinggi juga menyanjungku. Kupastikan kau paham itu. Namun, tak tampak gurat diriku padamu. Mungkinkah itu hanya kekeliruanku?

Aku dulu mulia. Berharga. Menjadi tonggak kokohnya pemikiran bijaksana. Tapi kini ku tak berbentuk. Remuk. Terbuang dalam ruang kelam. Pertanda malam berkepanjangan.

Kutunggu cahaya pagi dari dirimu. Menyambutku dengan khas lakumu. Tertunduk malu. Mengaku. Aku masih milikmu.

Ah, akankah itu jadi mimpi belaka? Karena yang dirindu tak lagi sama. Jauh berbeda. Sungguh lawanku kini yang kau jaga.

Kini aku laksana barang antik. Cantik tapi tiada yang melirik. Bahkan hanya untuk sekedar berbisik. Justru aku dianggap pengusik. Berisik. Mengganggu hidupmu yang kaubilang asik.

Kau benarkankah kata sang penista? Mengatakan aku yang membuat hidupnya merana. Tersiksa. Memiliki musuh tiada terkira. Terpenjara. Hingga lawanku yang dipiara. Dipuja.

Sungguh biadab kata-kata itu. Menjerumuskan dan menjauhkanku dari mu. Tak tahukah kamu! Pahitku saja bisa membawamu ke surga. Apalagi manisnya agungku. Lupakah kamu pada kalam sang Pencipta. Atau mungkin pedoman hidupmu telah berubah.

Kembalilah pada ajaran yang mulia. Ilmu agama janganlah kaulupa. Kekasih Allah memilikiku dalam sifatnya. Tidakkah kauingin mendapat syafaatnya. Kemarilah. Raih aku. Dekap erat. Agar hidupmu selamat.

Aku takkan membencimu. Walau telah kejam kaucampakkan aku. Percayalah. Allah selalu membuka pintu untukmu. Pintu taubat untuk menjemputku.

Jangan ragu atau malu. Aku tetap setia menantimu.
Jika aku telah bersamamu. Kicauan materi dan kuasa takkan mengganggumu.

Kujaga dirimu dari kilauan yang membutakan netra dan kalbumu. Kulatih lisanmu. Kutemani langkahmu. Maju dalam kebenaran hakiki. Seiring rida Illahi.

Kumulai lagi perkenalan kita. Wahai makhluk yang mulia. Akulah kejujuran. Engkaulah insan ciptaan Tuhan.

Sumber gambar: https://support.google.com/legal/answer/3463239

rumahmediagrup/decirizkahayulubis