Obrolan di Bale Banjar Topik : Bangkitkan Kembali Sekaa Teruna Teruni

Obrolan di Bale Banjar

Topik : Bangkitkan Kembali Sekaa Teruna Teruni

Jumat malam, beberapa pengurus banjar Buana Asri mengadakan rapat khusus, mengundang pengurus Sekaa Teruna Teruni (STT) Buana Asri. 

Rapat mendadak diadakan seiring berita di media massa tentang penangkapan geng begal yang beranggotakan remaja dan masih berstatus pelajar. Miris mengetahui hal tersebut.

“Selamat malam bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak sekalian. Pertemuan malam ini kita buka dahulu dengan doa bersama, agar lancar dan mencapai mufakat.”

Bapak Kelian Dinas membuka acara malam itu.

Tampak hadir di sana, pak Madra yang menjadi sekretaris banjar, pak Sutarja ;bendahara banjar, pak Dewa; ketua bidang rohani, pak Sukerta; ketua bidang pengabdian masyarakat, ibu Oka; ketua PKK banjar, ibu Ratmi; bendahara PKK dan beberapa pengurus STT yang diketuai Arta Kusuma.

Pak Kelian memulai pertemuan malam itu dengan membaca sekilas berita tentang remaja yang ditangkap aparat karena terlibat begal.

“Kejadian ini tidak jauh dari pemukiman kita lho. Anak-anak itu masih berumur belasan dan masih bersekolah. Sontak saya membuka daftar nama warga di sini dan melakukan kroscek ke kepolisian, apakah ada diantara pelaku tersebut berstatus warga di banjar ini. Syukurlah tidak satu pun.”

“Benar Pak Kelian, kejadian tersebut sangat memprihatinkan. Mungkin kurang perhatian dari orang tuanya.” Pak Madra ikut menanggapi.

Pak Sukerta mengangkat tangannya, “Maaf Pak Madra, saya kurang sependapat bila orang tua disalahkan sepenuhnya. Ya kalau si anak di rumah terus, kita mudah untuk memantau. Ini terjadi karena lingkungan di luar rumah pak, sulit untuk mengontrol.”

“Itulah sebabnya bapak-bapak, peristiwa Geng Donki ini menggugah kita untuk mengevaluasi kembali peran sebagai orang tua dan lingkungan sekitar terhadap aktivitas anak-anak yang sudah remaja.” 

Pak Kelian berusaha menengahi keadaan.

“Malam ini ada saudara Arta Kusuma, ketua STT banjar Buana Asri, yang akan kita ajak diskusi tentang kegiatan untuk para pemuda pemudi di lingkungan banjar kita. Sekretaris banjar akan menjadi notulen dan akan menyampaikan hasil rapat di akhir pertemuan. Mari kita mulai saja.”

Diskusi dua kelompok umur berjalan lancar dan berhasil merumuskan keputusan. 

Pihak orang tua dan pihak anak muda sepakat bila :

  1. Sekaa Teruna Teruni harus tetap ada dan semakin ditingkatkan program kerjanya. 
  2. Remaja Banjar Buana Asri diharapkan memanfaatkan waktu luangnya di kegiatan STT. 
  3. Tanamkan kepada mereka bahwa mereka juga harus berperan serta di masyarakat sejak dini, untuk melatih jiwa sosial dan demi kemajuan daerah sekitarnya.
  4. Kegiatan yang paling mendesak saat ini menghadapi hari raya Galungan dan Kuningan di bulan Februari 2020, serta Nyepi di bulan Maret 2020.
  5. Kegiatan menghiasi pinggiran jalan dengan penjor selama Galungan dan Kuningan.
  6. Membuat ogoh-ogoh untuk menyambut hari raya Nyepi.
  7. Mohon kepada para orang tua warga Buana Asri, agar anak-anak yang masih berusia 13 -16 tahun belum saatnya diberi kendaraan sendiri dan dilepas begitu saja di jalanan umum.
  8. Orang tua zaman now juga harus mengikuti perkembangan anak milenial dan tetap memilah mana yang tepat bagi putra-putrinya.
  9. Selalu bekerjasama dengan pihak kepolisian bila terjadi kriminalitas di banjar Buana Asri.

Rapat ditutup dengan doa kembali, dan agenda berikutnya adalah pertemuan pengurus Sekaa Teruna Teruni dengan anggota sekaa untuk menyampaikan program yang akan dilakukan.

Para wakil orang tua cukup lega dengan adanya kegiatan positif di Sekaa Teruna Teruni bagi anak-anaknya, walau tugas berat untuk membentuk mereka dimulai dari dalam rumah.

Ketua STT membentuk lingkaran kecil dengan pengurus STT lainnya, dan menyerukan slogan mereka, “STT Buana Asri. Berperan untuk kemajuan, Yes!”

Sumber foto: Banjar Tegeh Sari, Tonja

rumahmediagrup/hadiyatitriono