Anak Laki-Lakiku

Anak Laki-Laki

by. Ummu Ali

Seorang anak adalah dambaan seorang ibu. Sebagaimana buah hati yang lahir dalam rahim yang selama 9 bulan telah menyatu mengikat batin antar ibu dan anak. Kekuatan batin ibu lebih peka. Mengapa? jelas, karena sang ibu adalah orang pertama yang merasakan kehadirannya di rahim. Mulai dari rasa perut seperti kedutan namnun sejatinya itu adalah tendangan halus dari kaki mungilnya. Sampai detik-detik kelahiran sang buah hati yang sudah matang untuk siap melihat dunia.

Berbicara dengan masa kanak-kanak yang terbesit dalam pikiran kita adalah masa anak-anak itu waktunya adalah hanya bermain. Bermain dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mempunyai banyak pertanyaan dan sikap yang super aktif untuk segera ingin mencari jawaban yang terbendung. Sangat wajar jika seorang anak-anak itu sangat aktif dalam sikapnya, terlebih dengan sesuatu hal baru. Sebagai contoh anak dibawah umur 1 tahun mengenal benda yang dihadapannya dengan cara memperlakukan semua inderanya untuk mencoba, terlebih lagi sampai dirasakan dengan indera pengecapnya.

Perkembangan anak satu dengan yang lain adalah tidak sama. Seorang anak yang cepat berkembang adalah dia yang selalu mendapatkan stimulus untuk mendukung perkembangannya. Seorang anak yang lambat berbicara cara penanganannya harus sering diajak komunikasi agar setiap lafal dan kosakata yang dia serap semakin banyak. Setiap urat lidahnya tidak kaku dengan terbiasa berucap.

Begitu juga dengan seorang anak yang sudah bisa diajak komunikasi seperti halnya anak saya pertama yang saat ini masih TK. Di umurnya 3 tahun dulu dia tidak mengalami kelambatan dalam berbicara karena seringnya melihat saja. Tanpa adanya dampingan dengan komunikasi. Dan saya termasuk seorang ibu pemula yang masih awam sekali dengan dunia emak-emak. Yang terpenting bagi saya dulu adalah anak saya anteng, diam jarang rewel. Dan alhasil perkembangannya lambat.

Perkembangan anak itu harus ada namanya rangsangan secara langsung. dengan itulah dia bisa melihat, mempraktekkan serta otot-otot syaraf inderanya bisa lemas untuk berkembang dan tidak kaku. Bahaya gadget bagi anak-anak itu sungguh luar biasa. Karena tidak adanya rangsangan dan hanya bisa mengamati saja.

Cara saya menangani anak pertama saya adalah menjauhkan namanya gadget. Kegelisahan disaat tidak diberi adalah menjadikan candu bagi anak-anak. Emosi tak bisa terkontrol saat tidak diberi.

Kedua, seorang ibu yang lebih sering mendampingi anak harus serta aktif selalu dalam mengajak komunikasi sedini mungkin untuk merangsang perkembangangannya meskipun dia belum paham bahasa kita. Terus diajak komunikasi dengan baik. Memijat-mijat halus bagian rahang dan sekitar belakang telinga juga.

Ketiga, Ibu sesering mungkin mengenalkan keadaan sekitar dimanapun anak berada. Bersosialisasi dengan lingkungan, makhluk hidup, sesama orang untuk bisa terus menstimulasi perkembanganya. Terbukti anak saya yang usia 3 tahun lalu belum bisa berbicara dengan melakukan ini dalam 3 bulan perkembangannya meningkat.

Sekarang dia sudah menjadi kakak untuk menuntun adiknya. Selalu melontarkan pertanyaan sampai batas seorang ibu kualahan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan. Sehat selalu kalian adalah the best my boys.

rumahmediagroup/Ummu ali