Anak VS Gadget, Tips Cegah Kecanduan

Anak VS Gadget, Tips Cegah Kecanduan

Sebagai seorang ibu yang menjalankan bisnis daring dari rumah, tentu saja keseharianku sangat akrab dengan ‘gadget‘ atau gawai. Begitu pula di saat sedang bersama anak di rumah, sudah menjadi pemandangan sehari-hari baginya melihat ibunya berkutat dengan sebuah gawai.

Menjadi tantangan sendiri bagiku agar anakku tak terimbas virus kecanduan gawai yang tengah ramai melanda, mengingat begitu banyak pengaruh buruk penggunaan gawai pada anak. Di antaranya :

1. Mengganggu pertumbuhan otak anak karena kurangnya stimulasi lingkungan.

2. Tumbuh kembang yang lambat akibat terbatasnya gerak fisik.

3. Meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya.

4. Menimbulkan sifat agresif akibat kurangnya pengawasan saat anak menggunakan gawai, sehingga memudahkan akses terhadap konten media yang mengandung kekerasan fisik.

5. Kecanduan
Ketika orang tua terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak. Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orang tua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gawai, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi dan tidak bisa lepas darinya.

Bahaya penggunaan gawai pada anak sebaiknya dihindari dengan cara tidak membiarkan mereka terpapar teknologi tersebut secara berlebihan. Anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi dua jam saja per hari.

Berikut beberapa hal yang berusaha aku terapkan di rumah untuk mencegah terpaparnya anak pada pengaruh buruk gawai :

1. Menjelaskan berulang-ulang kepada anak bahwa gawai dipakai untuk bekerja. Jadi timbul pola pikir pada anak bahwa saat orang tuanya sedang berkutat dengan gawai berarti sedang bekerja.

2. Tidak menggunakan gawai untuk bermain games, menonton, maupun aktivitas hiburan lainnya di depan anak. Memberi contoh pada anak bahwa orang tuanya tidak bergantung pada gawai.

3. Sesekali memutarkan video pendek untuk anak melalui gawai sambil didampingi, dan dibatasi maksimal hanya satu video dalam sehari.

4. Memberikan berbagai aktivitas seru pada anak, sehingga anak tidak perlu mencari kesenangan melalui gawai. Contoh aktivitas yang bisa dilakukan adalah : bermain bersama anak, membiarkan anak bermain di luar rumah bersama teman-temannya, membacakan buku untuk anak.

Dengan tujuan untuk membuat anak anteng, banyak orang tua lantas memberi anak akses sebebas-bebasnya pada gawai. Agar anak tak heboh berlarian di rumah, agar anak tak mengganggu pekerjaan orang tuanya.

Memberikan gawai pada anak memang jalan termudah untuk membuatnya diam, sehingga tidak terlalu repot menjaganya. Namun penyesalan datang di kemudian hari saat sang buat hati terlanjur terpapar berbagai bahaya penggunaan gawai.

Salah satu tren kebiasaan orang tua masa kini adalah memberikan tontonan video dari gawai sembari menyuapi anak makan, agar duduk diam tak berlarian. Tanpa sadar, kebiasaan ini berarti sama saja dengan membiarkan gawai yang mengendalikan anak.

Akan lebih baik jika mengajarkan anak mengendalikan dirinya sendiri. Misalnya, setiap kali tiba waktunya makan selalu diingatkan kembali bahwa saat makan tak boleh sambil berjalan-jalan, bermain, apalagi berlarian. Awalnya memang repot dan melelahkan. Namun akan terasa memuaskan saat anak akhirnya berhasil memahaminya dengan baik dan bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk menjalankan adab makan yang benar. Bukan dikendalikan oleh gawai.

Mari bijak menggunakan teknologi. Lindungi anak kita, jangan sebaliknya malah menjerumuskan buah hati kita pada perkara yang akan mengganggu perkembangan fisik, akal, maupun mentalnya. Sehingga anak-anak kita akan berkembang dengan baik tanpa hambatan, insyaAllah.

Ditulis ulang dari :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157988423747847&id=748347846

rumahmediagrup/arsdiani