Anakku Begitu Berharga Untuk Kujadikan Pelampiasan Amarahku

Anakku Begitu Berharga Untuk Kujadikan Pelampiasan Amarahku

Oleh: Ribka ImaRi

HSP (Highly Sensitive Person) sepertiku sangat mudah terpicu saat ada suara berisik dari mesin pemotong keramik. Bagian belakang telinga jadi sakit, leher tegang, kepala senut-senut, rahang kencang. Efek begadang juga semalam dan ditambah lagi tambalan gigi sementara malah sudah lepas sebelum kontrol ulang di hari selasa nanti.

Karena sudah memahami penyebab kemarahan yang tersebut di atas, jadi bisa mencegah ledakan kemarahan sewaktu Jehan menyenggol banyak botol berserakan di lantai dan satu botol parfum kecil menjadi pecah.

Jujur, ingin sekali mengomel. Melampiaskan segala rasa yang tertahan di tubuh. Tapi sadar kalau melampiaskan ke anak itu bukan pilihan yang tepat.

Segera aku STOP & PAUSING. Self talk (bicara pada diri sendiri) untuk STOP MENGOMEL. PAUSING dengan cara tarik napas panjang dan dalam, hembuskan panjang dan dalam dan sebut nama panjang JEHAN XAVIERA PUTRI IMARI. Menyebut nama lengkap anak saat marah menjadi salah satu caraku mencegah aku bicara kotor dan kasar ke anak.

Kemudian aku jujur ke Jehan, “Sebenarnya Bunda mau marah banget ini Dek. Lagi makan malah mainan penggaris. Bunda kesal banget Dek. Dede dibilangin dari Bunda nada datar sampai naik nadanya tapi gak mau dengar. Keseeel banget dek. Ada rasa pengen cubit. Tapi Bunda tahan sabar supaya gak ngomel dan nyubit. Supaya Dede gak sakit hati, gak sakit badan. Tapi yang baiklah Dek. Duduk anteng. Jadi gak nyenggol botol-botol di sini (jendela). Ngerti dek.”

“Selamaaat … selamaaat … bisa MARAH TAPI TIDAK MARAH-MARAH,” ucapku dalam hati.

Meski perjuangan ini sangat sulit bagiku seorang penyintas BIPOLAR yang bisa tiba-tiba MOOD SWING. Sebenarnya bukan kelakuan Jehan yang memicu kemarahan. Namun, karena ada masalah di tubuhku. Ditambah keadaan puasa jadi lemas karena lapar. Jujur ini tantangan yang sangat sulit.

Karena puasa bukan hanya berjuang menahan lapar dan haus. Namun, pengendalian emosi itu lebih penting. Terlebih penting adalah saat bisa menjaga keutuhan hati anak. Menjaganya agar tidak pecah berkeping akibat mulutku yang tidak terkendali. Cukup botol parfumnya saja yang pecah berkeping-keping.

MINDFULNESS mengajarkanku untuk bisa MENERIMA KEADAAN YANG TIBA-TIBA TERJADI DILUAR DUGAAN.

Dengan RADICAL ACCEPTANCE (RA) ini aku jadi punya slogan “AKU TERIMA SEGALA KEADAAN YANG MEMBUATKU MARAH KARENA HATI DUO IMARI (TYAGA & JEHAN) TERLALU BERHARGA UNTUK DIJADIKAN PELAMPIASAN AMARAHKU”.

Dengan RA di atas memampukanku menghentikan marahku. Stop sampai di aku saja. Jangan aku lanjutkan marahku ke Tyaga dan Jehan atas ketidakmampuanku mengatasi masalah yang hectic di rumah pada hari ini.

Aku terus berlatih Semangat, Konsisten, Sabar & Telaten. Terutama di bulan puasa penuh berkah ini. Supaya bisa lulus sabar seterusnya.

Karena pelajaran pengendalian emosi menjadi begitu penting bagi setiap ibu supaya bisa tetap sabar setiap saat. Bukan hanya saat bulan puasa saja demi mendapat pahala melimpah. Tapi pelajaran seumur hidup saat membersamai anak hingga menua nanti. Demi menjadi role model pengendalian emosi buat anak. Agar kelak Tyaga dan Jehan bisa menjadi orangtua yang sabar juga.

-Ribka ImaRi-
Menulis adalah sebagai pengingat diri sendiri.

Sokaraja, 18 Mei 2019 (hari di bulan puasa)

2 comments

    1. MasyaAllah alhamdulillah Mbak Lelly..benar2 tertatih2 belajarnya ini.sebab dulu kalau sudah merepet itu susah berhenti🙈🙈

Comments are closed.