Analisis Fenomenologi Interpretatif

Analisis Fenomenologi Interpretatif

Analisis fenomenologi interpretatif adalah pendekatan untuk penelitian kualitatif psikologis dengan fokus idiografis (lokal). Hal ini dapat diartikan bahwa paradigma ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang bagaimana seseorang, dalam konteks tertentu, masuk akal jika ia diberikan waktu untuk menggambarkan sebuah fenomena tertentu. Biasanya fenomena ini berhubungan dengan pengalaman yang memiliki signifikansi secara personal (pribadi), seperti peristiwa dalam kehidupannya. Hal ini dapat dikaitkan dengan asal-usul teoritis dalam fenonemologi dan hermeneutika, dan ide-ide kunci yang seringkali mengutip dari Husserl, Heidegger, dan Merleau-Pont. Paradigma Ini berbeda dari pendekatan lain karena kombinasi komponen psikologis, interpretatif, dan idiografis.

Bagaimana tipe dari interpretatif? Kadang-kadang studi fenomenologi interpretatif melibatkan pemeriksaan mendalam dari pengalaman dan kegiatan pembuatan makna hanya dari satu informan. Kadang-kadang mereka dapat menarik jumlah informan dari sejumlah kecil orang (biasanya tidak lebih dari 15 orang). Dalam kasus lain, bisa juga informan diundang untuk mengambil bagian secara tepat karena informan ini dapat menawarkan peneliti beberapa wawasan yang bermakna tentang topik penelitian. Hal ni disebut sebagai purposive sampling (sampling bertujuan, tidak diacak, informan terpilih sesuai karakteristik tujuan penelitian). Biasanya, informan dalam studi intepretatif ini diharapkan memiliki pengalaman tertentu yang sama antara satu infoman dengan informan lainnya. Sifat skala kecil dari studi intepretatif ini  pada dasarnya menunjukkan bagaimana sesuatu dapat dipahami dalam konteks tertentu, dan dari perspektif bersama, metode ini kadang-kadang disebut sebagai sampling homogen. Desain penelitian ini yang lebih maju dapat mengumpulkan sampel (purposive) yang menawarkan banyak perspektif tentang pengalaman bersama (misalnya suami dan istri, atau psikiater dan pasien), atau mereka dapat mengumpulkan data selama periode waktu tertentu, untuk mengembangkan analisis longitudinal.

Selanjutnya, bagaimana pengumpulan data yang dilakukan pada interpretatif? Pada analisis interpretatif, peneliti mengumpulkan data kualitatif dari informan penelitian menggunakan teknik seperti wawancara, buku harian, atau kelompok fokus (fokus grup diskusi). Biasanya, ini didekati dari posisi penyelidikan yang fleksibel dan terbuka, dan pewawancara (peneliti) mengadopsi sikap yang penasaran dan fasilitatif (sikap yang bersifat menantang dan interogatif). Paradigma ini juga biasanya membutuhkan pencatatan pengalaman yang menonjol secara personal (pribadi) dari beberapa pengayaan dan kedalaman, dan mengharuskan pencatatan tersebut ditangkap dengan cara yang memungkinkan bahwa peneliti bekerja dengan menuliskan kembali dalam bentuk transkrip, kata demi kata yang terperinci.

Setelah data dikumpulkan, maka proses selanjutnya adalah analisis data. Pengumpulan data tidak dilakukan untuk menguji hipotesis, dan sikap ini dipertahankan dalam analisis data. Peneliti merefleksikan prakonsepsinya sendiri tentang data, dan upaya untuk fokus pada menangkap dunia pengalaman dari informan penelitian.

Hasil wawancara dituliskan dalam sebuah transkip. Kemudian transkrip diberi kode dengan sangat rinci, fokus pada jawaban-jawaban yang diberikan oleh informan, dan kemudian menginterpretasikan jawaban informan yakni memaknainya. Sikap hermeneutik interpretatif (sebuah paradigma intepretatif) adalah melakukan penyelidikan dan pembuatan makna, sehingga peneliti mencoba memahami upaya informan dalam mengeksplorasi pengalaman mereka sendiri. Dengan demikian, seseorang dapat menggunakan analisis fenomenologi interpretatif jika seseorang memiliki pertanyaan penelitian yang bertujuan untuk memahami seperti apa pengalaman yang diberikan (fenomenologi) dan bagaimana seseorang memahaminya (interpretasi).

Dalam analisis fenomenologi interpretatif dikatakan terdapat proses bottom up. Hal ini dapat dimaknai bahwa peneliti menghasilkan kode dari data, menggunakan teori (teori berfungsi sebagai peta/petunjuk) yang sudah ada sebelumnya untuk mengidentifikasi kode yang mungkin dapat diterapkan pada data. Studi interpretatif ini tidak menguji teori, tetapi mereka sering relevan dengan pengembangan teori yang ada. Misalnya, seseorang mungkin menggunakan temuan penelitian tentang makna keintiman seksual dalam hubungan tertentu. Kemudian untuk memeriksa kembali kecukupan teori yang mencoba untuk menjelaskan apa yang dapat terjadi pada praktik seks yang aman? Bagaimana bisa terjadi? Banyak pertanyaan lainnya, maka paradigma interpretatif mendorong dialog terbuka antara peneliti dan informan, karena itu, dimungkinkan jawaban-jawaban informan dapat mengarahkan peneliti untuk melihat hal-hal lain di luar dugaan peneliti. Dengan demikian, maka dalam melakukan pendekatan interpretatif ini peneliti setidaknya tidak melakukan dugaan atas jawaban-jawaban dari informan. Biarkan berjalan apa adanya.

Setelah menyalin data, peneliti bekerja secara dekat dan intensif dengan teks (transkip), memberi anotasi dengan cermat (‘koding’) untuk wawasan tentang pengalaman dan perspektif informan di dunia mereka. Ketika analisis dilakukan dan berkembang, peneliti membuat katalog kode yang muncul, dan kemudian mulai mencari pola dalam kode. Pola-pola ini disebut ‘tema’. Tema adalah pola makna yang berulang (ide, pikiran, perasaan) di seluruh teks. Tema cenderung untuk mengidentifikasi sesuatu yang menjadi perhatian peserta (misal objek yang menjadi perhatian, topik tertentu) dan juga menyampaikan sesuatu tentang makna hal itu, bagi para informan. Misalnya. dalam sebuah studi tentang pengalaman orang-orang muda yang belajar mengemudi, kita mungkin menemukan tema-tema seperti mengemudi sebagai ritus peralihan (di mana salah satu kunci pemahaman psikososial tentang makna belajar mengemudi, adalah bahwa itu menandai ambang budaya antara remaja dan masa dewasa).

Beberapa tema pada akhirnya akan dikelompokkan dalam tema yang lebih luas yang disebut tema superordinat. Sebagai contoh, merasa cemas dan kewalahan selama pelajaran mengemudi pertama, mungkin ini merupakan kategori yang lebih tinggi yang menangkap berbagai pola dalam pengalaman partisipan, emosi dan kognitif dari fase awal belajar mengemudi, di mana kita mungkin berharap untuk menemukan sub tema yang berkaitan dengan beberapa sikap lainnya, misalnya merasa gugup, khawatir tentang kehilangan kendali, dan berjuang untuk mengelola kompleksitas tugas. Kelompok terakhir tema biasanya dirangkum dan ditempatkan ke dalam tabel atau struktur (gambar terstruktur) serupa di mana bukti dari teks diberikan untuk mendukung tema yang dihasilkan oleh kutipan dari teks.

Analisis interpretatif ini juga dapat dikatakan sebagai analisis yang menyeimbangkan deskripsi fenomenologis dengan interpretasi berwawasan, dan yang menjangkar interpretasi ini adalah informan. Sehingga juga cenderung mempertahankan fokus idiografis (variasi tertentu tidak hilang), dan untuk tetap fokus pada makna (daripada hanya sekedar hubungan sebab akibat). Tingkat transparansi (detail kontekstual tentang sampel, penjelasan proses yang jelas, komentar yang memadai tentang data, poin-poin utama yang diilustrasikan oleh kutipan kata demi kata) juga penting untuk memperkirakan kemungkinan dan transferabilitas dalam analisinya. Keterlibatan dengan persoalan kredibilitas maka dapat dilakukan validasi silang (cross cek informan), penyelidikan kooperatif, audit independen, atau triangulasi. Jika sudah dilakukan uji validitas dan kredibilitas maka  cenderung meningkatkan kepercayaan diri pada pembaca

Setelah kita mengetahui cara kerja analisis femenologi interpretatif, maka penggunaan paradigma ini sebagai pendekatan kualitatif. Hal ini digunakan untuk mengetahui intepretasi atas fenomena tertentu. Secara luas biasanya digunakan dalam psikologi terapan, atau penelitian-penelitian yang berkaitan dengan hal-hal kesejahteraan secara fisik dan mental. Atau topik-topik lain yang sesuai, bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman seseorang dan memaknai pengalaman tersebut. Semoga bermanfaat.

Referensi

  • Heron, J. (1996). Co-operative Inquiry: Research into the human condition. London: Sage.
  • Reid, K., Flowers, P. & Larkin, M. (2005). Exploring lived experience, The Psychologist, 18, 20-23.
  • Shaw, R. L. (2001). Why use interpretative phenomenological analysis in Health Psychology? Health Psychology Update, 10, 48-52.
  • Smith, J., Jarman, M. & Osborne, M. (1999). Doing interpretative phenomenological analysis. In M. Murray & K. Chamberlain (Eds.), Qualitative Health Psychology. London: Sage.
  • Smith, J.A. & Osborn, M. (2003) Interpretative phenomenological analysis. In J.A. Smith (Ed.), Qualitative Psychology: A Practical Guide to Methods. London: Sage.
  • Smith, J.A., Flowers, P., & Larkin, M. (2009). Interpretative Phenomenological Analysis: Theory Method and Research. London: Sage.

rumahmediagrup/Anita Kristina