ANDAI MEREKA TAHU

ANDAI MEREKA TAHU

Geta Yuanita

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup oleh Geta Yuanita.

Na, Aku sama Eva ada di sekitaran rumahmu, nih. Habis dari Kantor Pos aku mampir, ya. Siapa tahu ada bakso, lapar, nih.

Pesan dari Mala itu sontak membuat Sakina panik, lalu diedarkannya pandangan ke sekeliling kamar dan ruang tamu. Berantakan sekali … seperti telah dilanda puting beliung. Kedua anak lelakinya baru saja pergi sekolah, namun sejak tadi, bayi kecil di pangkuannya masih tak mau berhenti menyusu. Ia harus menahan diri untuk segera membereskan rumah. Sekali lagi dibacanya pesan singkat itu. Pesan yang lebih tepatnya disebut pemberitahuan, karena rasanya tak mungkin melarang mereka datang, sebagai teman yang telah cukup lama dikenal.

Sambil tetap berusaha menidurkan si kecil, Sakina memperhitungkan waktu. Sepuluh menit cukup untuknya bisa membereskan kertas-kertas dan berbagai mainan yang berserakan di ruang tamu. Mengatur kembali tumpukan bantal, dan menyapu lantai jika memungkinkan. Tunggu dulu, bukankah tadi mereka bilang ingin bakso? Sakina memang selalu mempunyai simpanan bakso yang dia buat sendiri untuk anak-anak, agar kebersihan dan kualitas bahannya terjamin. Sebenarnya dia pun senang jika teman-temannya datang untuk makan bersama, tapi keadaan dapurnya kini seperti kapal pecah. Panci dan piring-piring kotor bekas memasak kemarin belum sempat disentuhnya. Semua masih bertumpuk di bak cuci piring. Bukan hanya itu, meja makan pun penuh dengan barang-barang yang tidak pada tempatnya. Ini pasti akan membuat mereka pingsan!

Sakina menghela nafas Panjang. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia tak suka jika teman-temannya selalu datang mendadak seperti ini. Dia malu dengan keadaan rumahnya yang sangat jauh berbeda dengan rumah mereka.

Eva dan Mala senang bersih-bersih, rumah mereka selalu tampak kinclong. Walaupun sama-sama tak punya asisten rumah tangga dan mempunyai anak yang masih keci-kecil, tapi rumah mereka tetap bersih dan rapi. Saking bersihnya rumah Eva, Sakina bisa duduk selonjoran di lantai kamar mandi yang selalu kering dan wangi. Begitu pun di rumah Mala, tak pernah sekali pun Sakina melihat sprei di kamar tidur yang acak-acakan seperti di rumahnya. Semua selalu tertata rapi dan bersih.

Sakina ingat betul ketika suatu waktu saat ada acara kumpul-kumpul di rumahnya, Eva yang hendak mencuci tangan, tiba-tiba mengambil lap dan membersihkan dinding bak wastafel, sambil berkata kepada semua bahwa dia tak nyaman melihat ada spot kotor di rumahnya. Semua tertawa tak terkecuali Sakina, sambil menyembunyikan wajah merahnya di depan yang lain.

Bukan kali itu saja dia menahan malu. Saat dirinya baru saja melahirkan dan pindah ke rumah kontrakan yang baru, beberapa teman tiba-tiba datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dengan alasan menengok bayi. Ujung-ujungnya mereka room tour hingga ke setiap sudut kamar. Malangnya, mereka jadi bisa melihat tumpukan baju yang belum sempat Sakina setrika. Meski tak ada komentar apa-apa tapi itu membuat Sakina sangat malu dan minder. Dia merasa tak bisa menjadi istri yang baik dan pandai mengurus rumahnya.

Hal ini pernah Sakina utarakan pada suaminya. Sosok yang selalu setia menemani, sekaligus guru kehidupan yang selalu memberikan energi positif pada dirinya.

“Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, yang penting kamu sehat dan bisa mengurus anak-anak, itu cukup buatku,” kata-kata suaminya kembali terngiang di telinga Sakina.

Ah, andai mereka tahu, dia bukannya tak berusaha, tapi setelah melahirkan anak ketiga, entah mengapa dia sering jatuh sakit jika terlalu banyak bekerja. Tiga kali operasi sesar dan tiga kali operasi benjolan payudara, membuat fisiknya tak lagi bisa sekuat dulu.

Mengingat semua itu, netranya tiba-tiba berkabut, menjatuhkan satu dua butiran bening ke pipi montok bayinya yang sudah setengah tertidur. Sontak si bayi menggeliat dan kembali menyusu. Sakina menghela nafas, dia menyerah. Rasa sedih bercampur kantuk yang menggelayut sisa begadang semalam, mulai menguasainya.

Sebelum terlelap, dia raih gawai untuk membalas pesan Mala, memberanikan diri mengatakan bahwa dia tak siap dikunjungi sekarang. Belum sempat mengetik, gawai di tangannya berdering nyaring. Buru-buru dia tekan tanda merah untuk menolak panggilan, tetapi terlambat, bayinya sudah menggeliat. Sejurus kemudian, aplikasi hijau di gawai Sakina menampilkan pesan.

Na, aku sudah di depan pintu rumahmu, nih! Bukain, dong!

Sakina pun limbung.

(Ilustrasi: Re Reynilda with Canva Apps)