Antara Bersabar, Patuh Bukan Terpaksa

Antara Bersabar, Patuh Bukan Terpaksa

Coretan jelang siang

Terbaca surat edaran pemerintah pusat untuk memperpanjang masa libur darurat corona dengan work from home dan belajar di rumah untuk pekerja kantor dan siswa sekolah. Harus bertambah menahan rasa ingin bekerja secara normal, bertemu siswa yang selalu ceria, beraktifitas normal, sekedar belanja bulanan ke Mall di kota. Patuh anjuran pemerintah, diisini titik pentingnya supaya semua menjadi lebih baik akhirnya.

Ya Alloh, aku berserah diri kepadaMU, jika mang Engkau menghendaki kami harus lebih mendekatiMU, memelukMU, menghambaMU, karena semata-mata memang hanya Engkau yang bisa kami hiba, kami tangisi dalam pinta. Kami rasakan teduh, nikmat nurani ketika sudah pasrah di haribaanMu. Bersabar, bertawaqal, seterusnya inginku Engkau jagakan.

Ternyata, manjadi bahagia tak harus hang out dengan squad atau gengnya semata, becanda ria di suatu tempat yang sudah disepakati, termasuk sepakat mengenakan dresscode saat pertemuan, apakah ini salah?.

Tidak usahlah menjustifikasi buruk buat kegiatan sekelompok tadi, bisa jadi malah dari pertemuan mereka timbul ide buat berkegiatan sosial. Tidak karena terpaksa kita membiarkan mereka berkegiatan dengan cara mereka, dengan melemahkan rasa syukur pada diri atas anugerahNYA.

Menjadi tenang, merasa cooling down tak harus dengan pergi piknik, cukup bertilawah kitab suci Al Qur’an akan sangat menenangkan. Menjadi istiqomah memang sulit, tapi harus ada tékad, minta kepada Alloh  buat keridhoanNYA  tidak terpengaruh arus/trènd pergaulan modern.

Dengan terapi ketenangan diri di jalan illaahi Rabbi. Jika ini akan berulang dalam mengisi hari, tentu tanpa terpaksa akan menjadi pembiasaan.

Yaa muqollibal qulub tsabit qolbi alaa dhiiniq. Yaa muqollibal qulub tsabit qolbi alaa tho’atiq. Yaa munqollibal qulub tsabit qolbi alaal iiman.

rumahmediagrup/isnasukainr

2 comments

Comments are closed.