Antara Kisah Sang Keledai dan Selembar Foto Kambing








Antara kisah sang keledai dan selembar foto kambing.

Apa yang terbersit dalam pikiranmu ketika melihat gambar “si Mbek” ini?
Lucu? Kelakuan bodohkah? Atau malah buat terheran-heran?

Akan kumulai dari menceritakan sebuah kisah dulu, sebelum kita bahas “si Mbek”. Ini dia ….

Kisah Bapak, Anak dan Seekor Keledai

Alkisah berjalanlah seorang bapak beserta anak lelakinya dengan menuntun seekor keledai milik mereka. Awalnya mereka merasa biasa saja, tak kenal lelah pun tak mengeluh.

Saat mereka berpapasan dengan seseorang yang tak dikenal, orang itu berkata, “alangkah mubazirnya kalian berjalan seperti itu. Untuk apa punya keledai jika tidak dimanfaatkan?”

Sang bapak berpikir sesaat, lalu akhirnya meminta anak untuk menaiki si keledai.

Beberapa saat kemudian, sang bapak dengan keledai yang sedang ditunggangi anaknya, melewati orang lain yang tidak dikenal mereka. Lalu orang itu berkata, “memang anak itu durhaka sekali membiarkan bapaknya berjalan, sementara dia begitu nyaman menunggangi keledai.”

Sang bapak merenung lalu membenarkan perkataan orang tadi. Akhirnya dia meminta anaknya turun lalu berganti dia yang menaiki keledai peliharaannya.

Baru beberapa langkah berjalan, melintaslah orang lain yang berkomentar, “tega sekali bapak itu membiarkan anaknya berjalan kaki, sementara dia enak-enakan menunggangi keledai.”

Dahi sang bapak berkerut memikirkan kebenaran ucapan itu. Akhirnya dia mengajak anaknya turut serta menaiki keledai dan yakin itu keputusan paling benar.

Tak lama ada seseorang yang melihat mereka sambil berkata, “tega sekali kalian menzholimi binatang seperti itu. Keledai kalian pasti merasa keberatan ditunggangi dua orang sekaligus. Sementara keledai itu bukan pula kuda yang kokoh.”

Sang bapak membenarkan komentar yang barusan didengarnya. Akhirnya dia turun dari keledai lalu membantu anaknya ikut turun bersamanya. Agak lama dia berpikir bagaimana solusi yang terbaik?
Akhirnya sang bapak memutuskan, daripada menzholimi binatang, bagaimana kalau dia dan anak ganti menggendong keledainya?

Dengan bahagia akhirnya bersama anak lelakinya, sang bapak menggendong keledai mereka. Dia meneruskan perjalanan lalu berpapasan dengan seseorang.

“Haha, bodoh sekali kalian! Kenapa keledai digendong seperti itu? Seharusnya kan kalian yang menaikinya!”


Apa kesimpulan dari cerita di atas?

Jadi serba salah kan? Mau menunggangi atau tidak menunggangi keledai tetap saja bagi orang lain itu salah.
Ternyata kita takkan bisa menyenangkan hati semua orang, kan?

Dalam hidup, meski kita merasa telah berbuat benar sekalipun, akan ada yang masih menganggap bahwa itu adalah kesalahan. Kita tak bisa mengatur komentar dari orang lain, namun kita selalu bisa mengendalikan diri bagaimana harus menyikapinya.

Coba bayangkan betapa melelahkannya jika kita harus terus-menerus mendengarkan perkataan orang lain, membiarkan orang mengambil keputusan untuk kita. Kenapa tidak mengambil langkah terbaik menurut suara hati sendiri?

Biarkan saja orang berkomentar seperti apa, sesuai dengan persepsi mereka. Coba lihat gambar kedua, bagaimana tiga orang buta menerka apa yang sedang mereka sentuh? Ketiganya mempunyai pendapat berbeda padahal apa yang mereka sentuh adalah bagian dari gajah.

Seperti itulah orang mendatangkan persepsi dalam pikiran mereka. Apa yang dilihatnya sebenarnya belum secara keseluruhan tapi sudah berani menyimpulkan. Seperti orang-orang yang berpapasan dengan bapak, anak dan keledainya tadi.

Jadi, kita kembali lagi pada foto pertama. Apa persepsi kalian setelah melihat ada kambing dibonceng manusia? Apakah manusia ini bodoh? Apakah manusia ini gila? Atau jangan-jangan dia punya kecenderungan zoophilia lagi. Hiiy.

Anyway, jika tak paham kenapa ada manusia membonceng seekor kambing, lebih baik tak usah berkomentar.
Jika memang ingin menjawab rasa penasaran kita, kenapa tidak tabayyun dengan menanyakan langsung?
Jika tak bisa berkata baik, maka diamlah.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)







rumahmediagrup/emmyherlina