Apa aku harus cerai …?

Apa aku harus cerai …?

Namaku Lily. Aku dan suami menikah di usia matang. Kamipun menikah bukan karena dijodohkan. Aku anak tunggal, dan suamiku anak sulung.

Selama ini dia sangat ngemong, seperti aku adalah adik baginya.

Saat aku mendengarkan lagu sedih, aku pun bisa menangis. Aku mendengar setiap lirik lagu kesedihan itu, rasanya seperti diriku yang sedang bermain peran dalam lagu tersebut.

Semua berawal dari rumah tangga kami yang dikaruniai seorang anak.

Aku tak percaya apakah semua lelaki setelah menikah berubah begini?

Atau hanya dia saja?!

Meremehkan seorang wanita yang telah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk kelahiran buah hatinya. Padahal buah hati itu tak lain darah dagingnya sendiri.

Egoku berkata, apakah aku harus bercerai dengannya?

Betapa aku merasakan ‘Jungkir Balik’ berubah peran dari seorang gadis lemah yang selalu kau manja, menjadi wanita yang diminta untuk berdiri tegak disaat uratku telah putus seribu.

Aku tak lelap tidur untuk menyusui anak kami. Selama 24 jam non stop harus melayani si bayi, dan kau pun merasa tak diperhatikan olehku. Aku ingin berteriak, rasa sakit ini masih ada, bayi pun membutuhkan perhatianku, pekerjaan rumah memintaku menyentuh mereka. Tak bisakah kau bersabar?

Waktuku terlalu banyak untuk sang bayi. Bahkan tak ada waktu untukku untuk sekadar memakai bedak secara perlahan di depan cermin.

Banyak orang – orang yang menantikan dan mengharapkan seorang anak, namun setelah ia hadir mengapa aku begitu lelah?

Emosi ini meledak – ledak jikalau suami tak bisa menghargainya, semua bisa jadi sasaran empuk amarahku. Bahkan si anak yang beranjak besar, merangkak dan berdiri, bereksplorasi ke sana kemari bisa menjadi amarah buatku, padahal?

Bukankah wajar bila anak bereksplorasi?

Dengan segala rasa ingin tahunya yang tinggi?

Lantas mengapa anakku selalu mendapat luapan emosi dari ibunya sendiri?

Lantas mengapa juga suamiku menjadi luapan emosi jika sebenarnya ia telah mendampingiku disetiap waktu?

Mengapa aku berpikir untuk bercerai?

Bukankah suamiku belajar menjadi ayah, sepertiku belajar menjadi seorang ibu?

***

THE JUNGKIR BALIK MOMENTS

Sebuah buku yang mengisahkan kumpulan cerita inspiratif tentang seorang wanita, baik wanita karir atau ibu rumah tangga yang ‘Jungkir Balik’ menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.

Kehidupan seorang wanita tak melulu tentang shopping, gathering, atau arisan. Seperti yang selalu mereka tayangkan lewat feed instagram.

Ada banyak peristiwa tak terduga yang bikin jungkir balik seratus delapan puluh derajat. Bikin emosi naik turun. Kepala nyut-nyutan. Jantung berdebar kencang. Ngepot kiri dan kanan.

Momen-momen yang bikin jungkir balik ini seringkali membawa pencerahan dalam kehidupan, seperti sinar mentari yang menerobos di sela-sela awan hitam.

Momen jungkir balik ini justru membuat jiwa seorang wanita semakin matang. Dengan demikian, kita menjadi seorang wanita mulia yang memahami rahasia kehidupan.

Daftar isi buku: THE JUNGKIR BALIK MOMENTS

  1. Memutar waktu (Dewi adikara).
  2. Kisah jungkir-balikku bersama trio kwek-kwek (Nur alfi yuliati).
  3. Berlian sayang (NIRA).
  4. Balada emak dedek dan resep bolu kojo palembang (Asri susila ningrum).
  5. Pelabuhan terakhir (Dian satyana).
  6. Kejora di langit senja (Aditya fiika).
  7. Jalan tol pemberian allah (Tettytanoyo).
  8. Nikah muda (Riyanti hambran).
  9. Senyum terakhir bram (Leni chan).
  10. Puisi: perempuan, gadis dan wanita (Nukisa andriani).
  11. Indahnya jungkir balik moments (Diah deka).
  12. Jungkir balik momen (NonInge).
  13. Menjadi pejuang ‘long distance marriage’, berani? (zulaeha).
  14. Produktif dari rumah (syarifani mulyana).
  15. Permata hati (Muthie fatimah husnah).
  16. Menggapai cita (N.Yusnita. P).
  17. Puisi: tentang ibu dan sebait cinta (Nuha).
  18. Harapan terakhir (Mbok jun).
  19. Bipolarku membuatku jungkir balik hadapi fase tantrum anak (Ribka Imari).

Baca resensinya: Kumpulan penulis The Jungkir Balik Moments

Berikut beberapa kutipan artikel penulis yang posting buku The Jungkir Balik Moments di media sosial.

Saya kalau sudah nyelesaikan urusan dapur, baru datangi meja setrika. Walaupun sebagian masuk laundry, tetap saja baju yang penting seperti seragam anak dan Ayahnya saya setrika sendiri.

Kalau waktu masih sanggup ya lanjut setrika semua tanpa laundry. Pikir hemat… hemat, walau punggung ini rasanya sudah terasa enggak bertulang karena pegal-linu.

(Dewi adikara)

Seandainya semalam aku membantunya menyetrika, mungkin ia tidak akan mengalami hal ini…,” sesal pak Cahyo di dalam hatinya. Ia merasakan kesakitan pada perasaannya, entah telah berapa tahun lamanya ia baru menyadari kembali betapa penting dan berarti hidup istrinya.

(Asri Susila Ningrum)

Jadi… udah bisa nilai sendiri, kan? Lelaki brengsek juga akan memilih wanita baik-baik untuk dijadikan istri. Karena apa? Ya… karena ingin kelak anak-anaknya dididik oleh wanita baik-baik, yang cerdas. Bukan wanita yang hanya pandai bersolek apalagi yang hanya memikirkan enak-enak doang.”

(Dian Satyana-Pemegang Naskah terbaik di buku The Jungkir Balik Moments)

Rasa luka di hati yang dulu Mas Rendy torehkanpun, mulai mengering. Meski masih membekas. Aku tak membencinya, pun aku tak mengajari anak-anakku untuk menjauhi ayahnya. Toh, tidak ada istilah mantan ayah. Kelakpun, Naura membutuhkan sosoknya.

(Aditya Fika)

Pandangan mata kami saling mengunci. Perlahan Mas Ardan memajukan wajahnya sedikit ke arahku. Sedikit lagi bibir kami akan saling bersentuhan.

Ehem!” sebuah suara membuat kami terlonjak segera melepaskan pelukan. Ayah dan Ibu sudah berdiri tak jauh dari kamarku.

(Riyanti hambran)

Mungkin dari luar terlihat enak, ada nenek-kakeknya anak-anak yang bisa membantu kerepotan mengurus rumah tangga. Tapi aku yakin, hanya orang-orang yang pernah merasakan di posisiku yang bisa mengerti bagaimana benar-benar jungkir-baliknya aku saat ini.

(Diah deka)

Menjadi seorang ibu rumah tangga tidaklah mudah. Harus memiliki banyak ilmu. Karena seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dituntut serba bisa atau yang disebut multytalenta. Ibu harus piawai.

Mulai dari menjadi pengasuh atau memomong anak, menjadi koki, tukang laundry, tukang pijat, bersih-bersih hingga tukang ojek dadakan, mengantar-jemput anak sekolah. Jika semua pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik. Maka, hatinya pun akan senang.

(Mutie Fatimah Husnah)

Dari kutipan-kutipan penulis di atas, kita bisa memahami bahwa kita tidaklah sendiri.

Dewi ingin meneriakkan ini pada teman-teman yang tidak punya tempat untuk mengadu dan ingin membuat mereka menjadi semakin kuat.

Yuk, kita bisa …!

Muliakanlah diri ini sebagai seorang wanita dengan banyak belajar, dan menerapkan ilmu-ilmu kebaikan dalam kehidupan.

Teman-teman berminat buku ini?

Boleh pesan ke Dewi atau ke para penulis di atas:)

Salam,

Dewi Adikara

Rumahmediagrup/DewiAdikara