Apa Kabar Para Ibu #StudyAtHome

Apa Kabar Para Ibu #StudyAtHome

Endah Sulistiowati

(Dir. Muslimah Voice)

Tidak dipungkiri belajar di rumah bagi anak-anak dan para orang tua memang ada sisi positif dan negatifnya. Adapun sisi positifnya adalah ibu dan anak menjadi lebih dekat, waktu berkumpul jadi lebih banyak. Lebih bisa mengenal pribadi masing-masing anak.

Namun sayangnya, banyak dari ibu-ibu yang tidak merasakan kebahagiaan tersebut. Justru kepedihan dan kesempitan yang mereka rasakan sebagaimana yang disebut dalam pengantar diatas.

Sehingga perlu dikupas satu per satu permasalahan para ibu agar bisa ditentukan akar masalahnya. Adapun permasalahan tersebut bisa di jabarkan sebagai berikut.

  1. Perbedaan Peran
    Tidak bisa dipungkiri menjadi ibu dan guru adalah dua peran yang berbeda. Tidak semua orang bisa menjalankan peran terebut dalam satu waktu sekaligus.

Terkadang, seorang ibu tidak bisa membedakan peran ini, ketika mereka harus menjalankan peran guru bagi anak-anak mereka.

Sehingga menimbulkan dualisme peran dalam waktu yang sama dan mengakibatkan ketidaknyamanan di kedua belah pihak (ibu dan anak).

  1. Faktor Finansial

Belajar di rumah menuntut kreativitas orang tua, terutama ibu, meskipun tidak menutup kemungkinan ayah juga terlibat. Kenapa butuh kreativitas? Bagaimanapun belajar di rumah membuat anak cepat bosan, karena tidak ada teman-teman dan cara belajar yang itu-itu saja.

Sehingga orang tua harus berusaha menghadirkan suasana baru ataupun kreativitas baru agar anak-anak bisa belajar lebih menyenangkan. Sayangnya, semua tidak gratis, para ibu dituntut untuk mengeluarkan biaya lebih untuk mewujudkan itu semua.

Apalagi dalam situasi resesi ekonomi saat ini, dengan penghasilan tetap bahkan cenderung mines, membuat para ibu harus memutar otak untuk bisa memanagemen pengeluaran.

  1. Sumber Stres Baru
    Peran baru dan tekanan finansial ditengan resesi ekonomi ini otomatis menjadi pintu masuknya sumber stres baru bagi para ibu. Apalagi jika ditambah dengan keterbatasan kemampuan individu, serta tuntutan untuk menyelesaikan masalah sendiri.

Hal inilah yang kadang membuat para ibu melakukan hal-hal di luar nalar. Bahkan kadang membahayakan diri dan anak-anak, sehingga bisa menambah tingginya tingkat KDRT di dalam negeri.

Nah, jika sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab?

Pendidikan yang sejatinya adalah tanggung jawab negara untuk menyelenggarakannya. Tapi ketika dalam kondisi pandemi, yang mengharuskan stay at home, maka pendidikan bagi anak-anak harus kembali di rumah. Disini negara wajib melakukan beberapa hal, antara lain:

  1. Membuat kurikulum yang tidak memberatkan orang tua (ibu). Dengan menyederhanakan bahan ajar, dan mempermudah anak-anak untuk belajar. Karena kembali lagi kemampuan para ibu berbeda-beda dalam menyampaikan bahan ajar, apalagi bagi anak-anak yang belum bisa belajar secara mandiri.

2. Membangun komunikasi dengan orang tua. Orang tua (ibu) sangat butuh diedukasi, didengarkan keluh kesahnya. Sehingga ibu pun punya muara harus kemana menyalurkan curahan hatinya.

3. Memberikan fasilitas yang diperlukan dalam belajar dirumah. Sehingga tidak membuat para ibu harus pontang-panting mencari prasarana bahan ajar, karena semua sudah disediakan.

Hal tersebut juga bisa dilakukan dengan kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah. Dengan kerjasama yang baik harapannya tidak ada para ibu yang harus stres menghadapi #StudyAtHome yang entah sampai kapan akan berlangsung.

Jangan lupa para ibu mengajak seluruh keluarga untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, apalagi di bulan suci Ramadhan ini. Dengan dekat dengan Allah bisa meminimalisir stres. Dan jangan pernah menjadikan mendidik anak ini beban, dibuat bahagia saja, lakukan semampunya. Keep spirit untuk para ibu.

RumahMediaGrup/endahsulis1234