API YANG MENJALAR DI ATAS JERAMI

Api yang Menjalar di atas Jerami

Memilih juga sebuah pilihan, pasrah, diam, tidak bertindak dan tak melakukan apapun itu juga sebuah pilihan. Tahun 2013 lalu, tujuh tahun silam, satu pilihan membuat banyak perubahan. Pertama kali jemari tangan menggenggam mentari yang berada di tanah Ibu kota membuat hati berkata “berbeda dari yang biasa terlihat”. Kenyataan tidak selalu indah ketika hanya mata yang melihat. Hingga perjalanan berlanjut ke kota hujan, kota pilihan dengan penuh harapan.

Dimana perjalanan indah yang bernama hijrah itu bermula. Semua terjadi begitu alami tanpa disadari ada proses luar biasa yang terjadi dalam diri hingga menemukan satu kebenaran yang hakiki tentang memaknai tujuan hidup. Pesan penggugah yang tak lekang hingga kini “Taat pada aturan Allah itu sebentar, hanya sampai Allah panggil, jika Allah panggilnya besok berarti hanya sampai besok”. Menghantarkan pada satu proses yang tak biasa karena pada dasarnya setiap kita memang harus berubah dan bertumbuh.

Disaat itu saya bukan satu-satunya seseorang yang memilih hijrah. Fenomena hijrah kian ramai diperbincangkan. Setiap orang memiliki cerita menarik, inspiratif tentang bagaimana mereka berhijrah, dari yang abai pada aturan Allah, menjadi berusaha untuk taat. Dari yang dulu tidak pakai kerudung kini mulai menutup aurat dengan sempurna. Masa lalu yang tidak tau apa tujuan hidup menjadi memahami untuk apa sebenarnya Allah ciptakan kita. Dulu menjalani hidup berstandar manfaat kini menjadikan Islam satu-satunya sebagai standar hidup. Yang dulu hanya berfikir Islam hanya untuk dirinya sendiri, namun kini memahami bahwa Islam untuk disebarkan keseluruh penjuru dunia. Menjadikan dakwah sebagai poros hidup agar tak gamang melewati perputaran dunia yang semakin cepat. Namun tidak semua mampu bertahan ditengah derasnya arus liberalisasi, memaksa kita untuk selalu berada antara pilihan-pilihan yang menyulitkan dan bias. Arus kapitalisme  yang terus menawarkan finansial yang melimpah, menjanjikan kemewahan namun mencabut habis aspek ruhiah para pengembanya. Hidup hedonisme yang menawarkan kepuasan semu. Ketakutan-ketakutan tak beralasan yang kerap menghantui. Hingga membuat beberapa diantara pejuang hijrah berguguran dalam pertempuran batin. Hijrah itu mudah yang sulit adalah istiqomah, ungkapan itu benar adanya.

Ada yang meski kita pahami saat hijrah agar tetap istiqomah yaitu jangan seperti api yang menjalar di atas jerami, pertama kali dibakar dengan cepat apinya membesar namun tak lama segera padam. Ketika hijrah hanya karena perasaan maka tak ubahnya seperti api yang menjalar di atas jerami. Semangat hijrah yang begitu besar, hingga mulai berdakwah kian menggebu-gebu, semangat perjuangan yang menggelora di awal namun hilang dalam sekejap, seperti api yang membakar jerami dengan cepat membesar dan menerangi namun dalam sekejap juga padam dan menjadi abu. Ketika angin datang maka abu –abu itu akan berterbangan tanpa arah. Jerami mengajarkan kepada kita, hijrah tak hanya butuh semangat saja namun tubuh tambahan ilmu setiap saat, karena antara ilmu amalan memiliki korelasi yang erat. Pemikiran harus dilibatkan agar perasaan tak mendominasi. Belajarlah! menuntut ilmu juga mesti bersabar, tak perlu tergesa-gesa. Berhijrahlah dengan dasar pemikiran yang kuat dan mustanir. Proses yang mengikuti tingkatannya akan menghantarkan pada sesuatu yang kuat, yaitu keimanan yang mengkristal.

rumahmediagrup/firafaradillah

One comment

  1. Hal fositif pada api adalah keberanian dan semangat untuk berani mengambil langkah dan tidak ragu untuk mengambil peluang terbaik dalam menjalani kehidupan dan langkah untuk merubah masa depan 🔮 “RIFAN “

Comments are closed.