Aplikasi (Bukan) Kualitatif

Sumber gambar: http://www.gravisware.com/

Aplikasi (Bukan) Kualitatif

Banyak bertebaran pelatihan aplikasi software untuk analisis kualitatif. Benarkah kualitatif dapat diselesaikan dengan sebuah aplikasi? Mulai kapan aplikasi sebuah software berkenalan dengan kualitatif? Banyak sekali pertanyaan yang muncul jika kita mendengar sebuah aplikasi untuk menyelesaikan persoalan kualitatif. Kita diskusikan ya.

Sebenarnya, program software banyak didesain untuk membantu analisis. Banyak program tersebut dipakai dalam analisis penelitian, kalau dibandingkan dengan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif mungkin cenderung lambat pertumbuhannya. Namun yang paling banyak muncul adalah membantu menganalisis data tekstual. Kalau software kuantitatif dikenal sejak 1990an, analisis kualitatif dikenal di tahun 1994.

Banyak operasional program melakukan perhitungan berdasarkan numerik, tetapi belum berkembang pada data tekstual. Paling tidak untuk pengolahan data. Sedangkan pada analisis kualitatif lebih pada analisis kesadaran dari sebuah pengalaman. Namun, saat sekarang banyak juga artikel kualitatif dalam jurnal sudah menggunakan software tertentu. Ini artinya pengunaan software pada pengolahan data kualitatif di sebagian jurnal dapat diterima. Artinya diperbolehkan kualitatif dianalisis dengan sebuah alat atau software.

Penggunaan software pada analisis kualitatif mengelolah data, membantu pengkodean, pencarian dan penyimpanan, penyajian, bahkan sampai dengan membangun konsep. Kemungkinan ada banyak peneliti kualitatif yang menggunakan software dalam analisisnya. Konten analisis sudah tergantikan perannya oleh alat. Misalnya memuat tema, kelas, kategori, dan lainnya. Bahkan membuat indeks dan materi tekstual.  

Sementara itu, sebenarnya kualitatif membutuhkan pembelajaran di tiap prosesnya. Menurut saya, komputer atau software tidak akan mampu menganalisis sebagaimana orang yang mengerjakan. Jika peneliti menggunakan software, maka peneliti akan sangat  tergantung pada keadaan data, transkip interview, catatan lapangan, atau dokumen lain. Tetapi tidak mampu hadir menangkap kepekaan data, naluri mendekati data dari sisi manusia. Dengan kata lain, ditakutkan hasil temuan hanya memunculkan keinginan peneliti, bukan menangkap kesadaran penuh informan.

Pemilihan program software mungkin hanya dapat membantu pada pengolahan kata yang sederhana. Tidak akan mampu menganalisis kedalaman data, bahkan tidak mampu menemukan neomena (dibalik fenomena). Rumitnya ethnografi akan terpola dari luarnya saja jika menggunakan software. Belum mampu mengungkap hal-hal mendalam dan penuh kepekaan rasa. Karena software hanya mampu menelusuri cara pikir informan dari banyaknya jawaban yang sering muncul. Kategori terpola dari kata-kata yang sering muncul dan sederhana. Padahal pada beberapa paradigma kualitatif membutuhkan kedalaman, tidak hanya sebatas menggambarkan pola. Mungkin tidak terselesaikan dengan sebuah software.

Pada proses pengolahan kata, pada software hanya meminta memindahkan file teks dasar. Ada proses memindahkan, memproduksi ulang, mencari teks. Mungkin efektif jika menggunakan software. Namun, software tidak dapat menangkap emosi yang ditunjukkan pada kata yang muncul. Hasil wawancara dituliskan sesuai kata yang kita masukkan pada file transkip. Berbeda jika kita mendalami tiap kata, bukan hanya memindahkan saja.

Software juga ada digunakan untuk melihat kata yang tepat, sebagai temuan hasil. Tapi ingat ya, ketepatan secara spesifik tentunya berbeda dengan cara kerja manual. Karena karakter dari kata tidak mampu diperlihatkan software dengan sempurna. Demikian, meletakkan kata yang pas, unik, memiliki karakter spesifik akan lebih mudah ditemukan oleh software, namun tidak dibumbuhi rasa kepekaan dalam menyajikannya.

Peneliti kualitatif juga banyak mengembangkan software yang komersil. Banyak program dibuat untuk menjaga konsistensi teks, kode, menampilkan kode. Program juga akan memilah data kasar. Namun, koreksi terjadi hanya sebatas konsep pengkodean. Pengembangan koreksi atas konseptual teoritis belum mampu dilakukan dengan sempurna. Klasifikasi urutan konsep tergantung pada pengetahuan si peneliti dalam mengembangkan hasilnya. Bukan tergantung pada software. Kapasitas software hanya memfasilitasi peneliti dalam membuat jaringan konseptual, hanya menguji teori. Belum mampu mendekonstruksi teori dengan solid. Seperti kemauan gronded theory pada paradigma kualitatif.

Meskipun program-program baru dalam software atau aplikasi penelitian kualitatif bermunculan. Namun, beberapa peneliti kualitatif tidak mampu membedakan apakah mereka melakukan penelitian kualitatif tersebut untuk mendedikasikan pengetahuannya dengan “darah” kualitatif murni. Atau, hanya sekedar menjalan tugas, hanya menemukan sesuatu. Karena software aplikasi kualitatif tidak membuat peneliti bebas dari analisis berpikir kualitatif. Yaitu menemukan konseptualisasi original dari bukti empiris, sehingga mampu memberikan makna, mengkritisi, bahkan “post” berpikr diluar jangkauan yang hanya sebatas alat dan teknologi.

Memang aplikasi software memudahkan peneliti bekerja dari ratusan atau ribuan teks, berkas, dan kertas kerja. Lebih cepat membedakan sejumlah aspek statistik dan rangkaian kata. Tetapi, pada eksploitasi yang jauh dan mendalam, aplikasi software belum mampu menjelaskan hasil yang simultan. Bahkan kesempurnaan kecerdasan manusia untuk menangkap inderawi dan atau dibalik inderawi tersebut, belum mampu dilakukan oleh aplikasi software. Harus diingat bahwa pengorganisasian waktu olah data memang lebih efisien dengan aplikasi. Namun, bagi peneliti kualitatif, tiap proses olah data adalah pembelajaran berharga. Bukan hanya memindahkan kata dan file. Peneliti kualitatif butuh “membaca,” menghidupkan data, dan mengembangkan kemampuan kepekaan “insting” kualitatifnya.

Berbeda itu indah. Semoga mencerahkan.

rumahmediagrup/Anita Kristina