AROGANSI BERBALUT KETAATAN

Arogansi Berbalut Ketaatan

Bagi mereka kaum terpelajar ujian adalah evaluasi seberapa jauh memahami suatu materi. Begitu juga dalam hidup, semakin naik level seseorang tentu ujianya semakin berat. Ketika yang awan hanya diuji dengan ketidaktahuan maka terpelajar akan diuji dengan sok taunya.

Hijrah satu kata penuh misteri, rahasia antara dia dengan Penciptanya yang tidak akan terdeteksi oleh waktu. Siap berhijrah karena Allah artinya siap untuk uji. Disaat inilah syaitan menyerang, orang-orang yang berusaha taat dan beribadah, membuatnya merasa cukup ibadahnya dan seolah akan menjadi penghuni surga. Merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki hingga merasa paling tau segala hal.

Disaat itu syaitan mulai membalut arogansi dengan ketaatan hingga tak lagi bergaul dengan para pembuat kemaksiatan karena merasa yang paling benar dan suci. Hingga yang terjadi, dengan mudah menilai kekurangan-kekurangan orang lain. Ada  hati yang merasa iba dengan mereka yang jauh syari’atNya dan berbisik. “Aku lebih taat dan beriman dibandingkan Dia.”

Ketika penampilan menunjukkan satu perubahan total, siapa sangka sesungguhnya ada jiwa gundah nelangsa yang masih bersemayam dalam dada. Penuh dengan kekeringan ibaratkan tanah tandus tanpa aliran air. Ada yang terlupa di dalamnya bahwa berubah tak hanya sekedar rupa namun nan jauh tersimpan bernama hati dan pemikiran mestinya ikut mengatakan “iya” akan perubahan, agar senada dalam berhijrah.

Pelajaran pertama disaat mulai berubah dan bertumbuh adalah memahami bahwa menjadi seorang muslim harus terikat dengan hukum Syara, menjadikan islam sebagai standar berbuat. Bahkan berbenah sampai ke dalam hati terdalam. Tidaklah mudah memang, karena banyak hukum Syara yang mesti terbentur dan bergesekan dengan kebiasaan. Namun semua itu harus terjadi karena berubah harus menyeluruh. Untuk dapat memahami semua itu, hal pertama yang berubah adalah pemahaman yang akan mewarnai semua aktivitas. Ketika waktu terus berjalan sesuai dengan kemauanya sendiri, alam juga ikut bertasbih ketika satu usia bertambah. Pikiran mulai memerintah diri akan membenahi cara berpenampilan hingga dalam bentuk yang paling sederhana agar ia seirama dengan Syara.

Butuh usaha dan pengorbanan untuk terus menambah tsaqofah islam agar terbalut hati dan fikiran sesuai kehendak Sang Pencipta. Buatlah hati dan fikiran menjadi tunduk akan kehendak Pencipta agar terlepas dari balutan arogansi yang menyelimuti ketaatan.

rumahmediagrup/firafaradillah