Asep

Asep
Malam semakin larut, senyap. Bahkan bunyi suara cicak pun nyaris tak terdengar. Asep menarik sarung usangnya namun hanya dapat menutupi setengah badannya. Pun tak juga dapat mengusir dinginnya malam. Rumah dengan dinding bilik bambu sudah tak senyaman saat masih ada emak. Anak lelaki 11 tahun itu kini hidup sebatang kara. Bapaknya tak pernah lagi muncul di hadapannya. Merantau ke seberang, tak pernah sekalipun mengirim kabar kepada Asep dan emaknya. Selama ini emak Asep memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan bekerja sebagai buruh pencabut rumput liar di sawah-sawah milik tetangga. Sambil menemani emak, Asep biasanya asyik bermain dengan teman di area persawahan.

Beratnya hidup tak pernah sekalipun dikeluhkan oleh Asep yang ia tahu hanyalah bagaimana bertahan hidup sendiri tanpa emak di sampingnya. Namun hal itu tak menjadikan Asep sedih dan tepuruk, ia selalu teringat pesan Pak ustad Badrudin guru ngajinya agar ia senantiasa mendoakan emaknya.

***

Semilir angin kurasakan bertiup lembut menyentuh wajahku. Udara panas kemarau sedikit mengurangi teriknya. Dua hari berkunjung ke desa Karang Sambung Kebumen mengajarkanku lebih mensyukuri hidup. Aku banyak belajar dari sosok Asep yang begitu dewasa dalam menyikapi hidupnya. Teruslah menjadi pribadi yang tangguh, Asep. Yakinlah kelak akan ada hari- hari yang indah buatmu.

rumahmediagrup/shescafajar

3 comments

Comments are closed.