Ayah Inspirasiku (bag. 1)

Sore itu langit mendung. Hujan mulai turun perlahan. Semakin lama semakin deras bagai dicurahkan dari langit. Aku masih bersimpuh di atas sajadah, mukena belum kulepas. Masih kurasakan pedihnya hati ini, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut orang yang tersayang, orang yang melahirkanku. Kata-katanya begitu menyakitkan, sungguh membuat hati ini semakin perih. Apa yang harus kulakukan ? Pergi dari rumah atau bagaimana ? Kalau untuk minggat tak pernah ada di benakku. Aku tak punya keberanian untuk kabur. Mau kabur ke mana ? Aku ga punya sodara yang dekat.

                Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka. Duduklah ayah di atas tempat tidurku sambil menghadap ke arahku.

“ Neng, kamu jangan diam saja, cobalah kamu bilang sama kakekmu yang sejujurnya ”!kata ayah dengan kalimat bijaknya.

“ Kalau kamu diam saja, masalah yang kamu hadapi tak kan terpecahkan”. Sambung ayah lagi. Aku hanya diam sambil menahan isak tangisku. Air mata masih menetes tak tertahankan. Lalu ayah berkata lagi.

 “ Bilang saja sama kakekmu bahwa kamu masih ingin kuliah, jangan diam membisu seperti ini”. Sungguh sebuah kalimat yang sangat bijak yang terdengar di telingaku. Rasanya bagai air yang menyejukkkan hati ini ketika mendengar perkataan ayah. Kalimat yang ayah ucapkan sangat jauh berbeda dengan apa yang diucapkan oleh ibu. Ayah adalah seorang yang menjadi panutanku, panutan hidupku. Dia orangnya pendiam, jarang bicara namun sekali bicara akan membuat semua anaknya, terutama aku selalu terdiam. Ayah seorang guru BP di salah satu sekolah swasta. Dia sudah tahu bagaimana cara menghadapi anak-anak yang sedang bermasalah di sekolah. Apalagi yang dihadapinya sekarang adalah putrinya sendiri. Tentu beliau akan lebih intensif membantu permasalahan putrinya. Pernah suatu hari aku dipanggil ayah. Aku disuruh duduk hanya berdua dengan ayah. Rasanya mungkin seperti anak nakal yang disuruh menghadap guru BP bagi yang sudah pernah merasakan hal itu di sekolah. Saat itu aku dipanggil tentang kelanjutanku kuliah. Aku tidak lulus UMPTN padahal aku ingin sekali kuliah di Bandung,tentunya di sekolah negeri. Ingin sekali aku merasakan bagaimana sekolah yang jauh. Namun karena tidak lulus ya mau bagaimana lagi. Tentunya ayah ingin tahu aku mau melanjutkan ke mana setelah ini.

                “ Kamu mau melanjutkan sekolah ke mana lagi “? Tanya ayah

                “ Aku mau berhenti dulu Yah, nanti tahun depan mau coba UMPTN lagi ”? Jawabku.

                “ Sekarang aja sudah ga bisa, bagaimana mungkin tahun depan otakmu itu akan mengendap kalau dibiarkan. Terus sekarang mau apa ”? tanya ayah lagi.

                “ Aku mau kursus aja, Yah”. Jawabku.

                “ Kursus apa“? tanya ayah lagi

                “ Kursus jahit, Yah”. Jawabku

                “ Kursus yang begitu nanti juga bisa sambil kuliah. “ kata ayah agak kesal kepadaku. Lalu ayah berkata lagi, “ Kalau kamu mau sekolah sampai di sini ya syukur, kalau mau kawin ya kawin aja. Tapi sama siapa?” kata Ayah betul-betul kesal rupanya sama aku. Kemudian ayah memberikan keputusan “ udah aja kamu kuliah di sini aja. Tuh sekolah bekas ayah aja, biayanya murah bisa dicicil lagi. Kalau kamu menunda kuliahmu nanti bagian adik-adikmu. Ayah akan repot mengatur biayanya.”

                Aku merupakan anak tertua dan merasa aku adalah anak penurut. Aku tak pernah membantah keputusan ayah. Bagiku pertimbangannya selalu yang terbaik. Dan akhirnya aku pun kuliah sesuai dengan keinginan ayah. Tapi aku juga nagih janji sama ayah. Sambil kuliah aku ikut kursus jahit di sebuah balai pendidikan nonformal namun di bawah naungan dinas pendidikan dan kebetulan jadwalnya tidak bentrok dengan jadwal kuliah.

                Seperti yang kurasakan saat ini, apa yang dikatakan ayah selalu kurasakan mengena di hati. Mengapa aku harus diam aja, mengapa aku tak bilang saja yang sebenarnya kepada kakek tentang lamaran itu. Ya, aku telah dilamar oleh seorang pemuda di kampungku tanpa sepengetahuanku. Kakak dari pemuda itu datang kepada kakek menyatakan maksudnya untuk menjadikan aku sebagai calon istri dari adiknya. Tentu saja kakek apalagi ibuku mungkin merasa senang. Karena anak cucunya ada yang melamar. Karena selama ini aku tak pernah punya teman laki-laki apalagi teman spesial. Pantesan selama ini aku sering melihat ibu selalu berbincang dengan kakaknya itu. Ternyata ada sesuatu maksud. Mendengar hal itu aku sangat terkejut. Bukannya memberikan jawaban tapi malah diam membisu. Kebisuan itu yang membuat ibu marah dan mengeluarkan kalimat yang tak pantas diucapkan oleh seorang ibu. Sebenarnya aku memang mau menolaknya. Tapi kalau mengatakan secara langsung, aku ga berani. Akhirnya aku berdiam diri dan merasa benci sama ibu. Aku tahu pemuda itu. Dia memang masih sodara tapi aku merasa tak cocok dengannya. Apalagi kami mempunyai perbedaan yang sangat jauh.

bersambung…