Ayah Inspirasiku (bag.2)

Setelah mendengar saran dari ayah, aku bangkit dan kulepas mukena yang masih kupakai. Aku segera mencari payung. Setelah kudapat payung itu aku segera ke luar dan pergi ke rumah kakek. Letak rumah kakek ga begitu jauh, hanya beberapa langkah saja dari rumah ibu. Setelah masuk ke rumah kakek langsung aku temui kakek dan aku berbicara dengan kakek.

Dengan suara terbata-bata menahan emosi aku berkata: “ Kek, maafkan aku, aku ga mau sama dia karena aku masih ingin membereskan kuliah sampai nanti aku punya pekerjaan.” Sambil dalam isak tangis aku lanjutkan bicaraku,“ Kalau aku nikah sama dia sekarang, aku takut nanti aku tak akan diizinkan untuk bekerja.”

Waktu itu aku masih kuliah tingkat 4. Tidak terpikir olehku kalau aku harus nikah sambil kuliah. Sungguh merepotkan.

                Lalu kakek menjawab “ Tadinya kakek menaruh harapan besar padanya. Dia orangnya baik,  sudah cukup mapan, pinter ngaji, masih sodara lagi. “ Kakek menjelaskan panjang lebar tentang dia.

Ya aku memang tahu dia. Tapi dia bukan laki-laki idamanku. Bukan laki-laki seperti itu yang kuidamkan walaupun kata kakek dia orangnya sholeh, tahu tentang agama. Tapi aku ga tertarik sama dia.

Setelah beberapa saat lalu kakek berbicara lagi kepadaku. “ Ya sudah, ga apa-apa kalau itu maumu, tadinya kakek sangat berharap padamu. Kamu adalah cucu perempuan kakek satu-satunya. “ jawab kakek sambil berlinang air mata.

Ya, aku memang cucu perempuan satu-satunya. Tadinya mungkin kakek berharap aku mau menuruti keinginannya. Apalagi kakek merupakan orang yang cukup berpengaruh di kampung kami. Kakek sering diminta bantuan oleh orang-orang untuk jadi mak comblang atau diminta untuk meminang. Mungkin juga dia merasa malu, cucunya sendiri belum punya jodoh atau pasangan. Sedangkan gadis yang lebih muda dari aku sudah banyak yang menikah atau tunangan.

                Setelah menjelaskan semua alasan penolakanku kepada kakek, aku pulang kembali ke rumah. Di sepanjang jalan tak hentinya air mata ini menetes. Mungkin tangisku akan terdengar sangat keras seandainya saat itu hujan tak mengiringi langkahku. Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar dan menumpahkan semua kepedihanku di atas bantal. Masih terngiang ucapan ibu yang begitu menyakitkan ketika aku diam membisu waktu ditanya soal lamaran itu. Aku tak tahu mesti menjawab apa. Kalau terus terang menolaknya pasti akan marah. Tetapi diam dalam kebisuan juga tambah marah. Mungkin selama ini ibu sudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Maklum di kampung, jika ada anak gadis yang sudah berumur tapi belum ada yang mengikat selalu jadi pembicaraan. Apalagi gadis seusiaku yang lebih dari cukup. Anak-anak perempuan lulusan SMP saja sudah banyak yang dijodohkan oleh orangtuanya. Hal ini mungkin yang membuat ibu merasa malu dan marah atas sikapku. Namun lain hal dengan ayah. Ayah lebih bijaksana dalam menanggapi segala sesuatu. Ayah malah lebih banyak memberikan pandangan positif kepadaku. Ayah lebih tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Ayah memang idolaku. Usia ayah dan ibu terpaut cukup jauh. 12 tahun perbedaannya. Ayah memang sudah cukup matang ketika menikah dengan ibu yang masih belia. Jadi pantas saja kalau dia lebih bijak. Apalagi pendidikan ayah juga cukup mendukung.

Pernah suatu hari aku mendengar ucapan ayah kepada ibu “ Biar saja apa maunya anak kita, kalau bibitnya sudah matang mudah-mudahan hasilnya bagus.”

Perkataan ayah itu seakan menasehati ibu agar tidak memaksakan kehendaknya. Aku bangga punya ayah seperti beliau. Terimakasih Ayah atas semua pengertianmu dan juga kasih sayangmu.