Ayah ….

 Ayah ....
 
Suara pertama yang terdengar merdu
Saat lantunkan lafaz Illahi di telinga ini
Mendayu menelusup ruang kalbu
Tinggal dan menetap tanpa akan pergi
 
Senyum bahagia
Terpancar dari raut kusam wajah
Dipenuhi gurat-gurat kasar menyisakan penat
 
Terbayarkan saat kau memandangku
Sebulir air mata menetes membasahi pipi mungil
Terdengar bisik lirih terbata-bata
 
"Anakku"
 
Begitulah kau menyapaku
 
Sepasang tangan kekar yang masih sisakan lelah
Membanting tulang sejak fajar menyapa
Hingga sang purnama hadir di langit malam
Masih sisakan kelembutan
Saat pertama mendekapku dalam pelukan
 
Suatu rasa yang hangat
Yang selalu membuat hati merindu
Erat kuat takkan terlepas
Meski badai menerjang coba pisahkan
 
Seiring waktu berjalan
Habiskan masa beranjak dewasa
 
Rasa itu masih ada
Meski kini jauh terpisah
Berbeda nusa berganti bahasa
 
Ingin rasanya berlari sekencang mungkin
Melompat dan berharap sepasang tangan itu menangkap
Dekapan erat
Hangat yang akan musnahkan luapan rindu yang membuncah
 
Ingin kurebahkan kepala ini ke dadamu
Sekedar merasakan degup haru
Pejamkan mata dan nikmati
Betapa damai kala kau usap lembut
 
Ayah
 
Semua yang kau berikan
Segala yang kau perjuangkan
Demi satu harapan
 
Hanya yang terbaik
Untuk anakmu tercinta
 
Dan kini
 
Aku rindu pelukanmu
 

Event Challenge Nubar
Bandung Barat, pertengahan Juli 2019
D3100 18-200 mm
Snapseed


rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy