Menatap Langit Biru-Mu

Masih disuasana pagi yang cukup cerah. Angin mencoba membisikan keromantisan memeluk pemandangan yang tampak jelas dipelupuk mataku.

Awan putih yang bergemul, menciptakan nuansa kebersamaan. Sedang asyik berkumpul mesra, memperbincangan sesuatu yang layak dipersembahkan untuk menceriakan pagi ini.

Sejak tiba di Villa Ronmes tadi malam , orang-orang menyebutnya rondo mesem dengan singkatan Villa Ronmes.

Aneh-aneh saja sih orang di sekitar villa itu menyebutnya . Tetapi mungkin hanya ingin mudah menyebut nama villa agar terkenal.

Mentari mulai menggeliatkan sisa-sisa tugasnya semalam, dibelahan dunia lain. Karena tentunya, dia yang tak henti memberikan sinar terang, bak lampu neon ribuan bahkan milyaran watt, untuk menerangi jagad raya.

Wulandari yang terbiasa terbangun dini hari, merasakan lelah karena perjalanan seharian kemarin, untuk menuju tempat indah ini.

Destinasi yang diajukan kawan-kawan sekantornya, untuk bisa rehat sejenak dari kesibukan.

Wulandari seorang karyawan swasta yang tentunya memiliki kedudukan jabatan cukup strategis di kantornya.

Penghargaan dari kantor dan seluruh staf, yang memberi hadiah liburan gratis ke tempat yang memang sengaja dirahasiakan Bosnya, di tempat kerja.

Memang agak sedikit ada keterpaksaan. Kenapa hanya aku yang diberi perintah untuk berlibur rehat di villa yang agak jauh dari perkotaan.

Perasaan risih sedikit menyelusup ke sanubari. Kenapa mereka tega, seolah menjauhkanku ke tempat semacam ini. Kata sayu masih enggan untuk membuka.

Namun, kebiasaan Wulandari yang selalu memberi gerak pada tubuhnya. Sudah panggilan alam, untuk menyibakkan gorden hijau jamrud tua, yang seolah layar lebar, menutupi indahnya lukisan yang belum tampak jelita.

MasyaAllah, begitu gorden perlahan dibuka, tampak benar-benar indah pemandangan yang ada.

Sinar yang mulai hangat menyeruak masuk ketubuh yang terbalut kain tile, menyapa dengan semangat, agar Wulandari membuka jendela kaca kamar villa yang tampak lapang dan lebar.

Tak menyadari apa yang terjadi, Wulandari keluar balkon atas yang memang langsung berpapasan dengan turunnya sinar matahari pagi yang sedikit nakal menyengat tembus sampai ke tulang sumsum terdalam.

Senyumanpun mulai merekah. Ikut menikmati sorotan pagi, yang tiba-tiba menarik mimpi untuk segera merasai hangatnya pagi bergelora.

Ditengah sikap bermanjanya dengan sang mentari, tiba-tiba entah dari mana suara riuh pecah. Orang-orang memandang dengan penuh gembira.

Semua berteriak “I Love You!. I Love You!.” Wulandari langsung memeluk tubuh merasakan kaget dengan pagi yang tiba-tiba membagi kejutan.

Lebih parahnya lagi, Bos kantor yang memberinya hadiah untuk istirahat di Villa ini, berdiri di pinggir bukit tak jauh dari Villa dimana Wulandari berdiri saat ini.

Dengan lantang Mr. ARMAN berteriak “Anna uhibbuka fillah. Maukah kau menjadi jodohku?, Wulandari?”.

Tentu saja semua yang ada di bawah saling berteriak meng-iyakan. Tepuk tanganpun semakin riuh saja mulai dirasakan gaduh.

Matahari yang tetap membagi senyum, telah menyapa dengan sebuah kejutan tak terduga menurut kehendak-Nya.

Entah apa yang harus aku ucapkan. Sahut Wulandari. Yang kini menyadari, kalau Bosnya itu sengaja merencanakan ini semua, demi sebuah kata setuju dari Wulandari.

Meski hanya mampu menatap langit biru di pagi itu, matahari mengerdipkan matanya kepada Wulandari.

Mungkin ini saatnya Wulandari mulai mengerti, apa sebenarnya dibalik rencana yang diperintahkan Bos kepadanya.

Bahagia, milik semua yang mau mendapat bahagia. Maka yakinlah bahwa bahagia hanya untuk mereka yang siap dengan kata bahagia!

Akhir cerita yang tak meragukan untuk memberikan kisah indahnya. Semua memang ada yang Maha Mengatur. Tinggal bagaimana kita bisa menjalani setiap langkah, dengan selalu tetap membagi senyuman itu.

Rumah Media Kita/ Allys Setia Mulyati

Foto : dokumentasi pribadi