Baking … A Therapy

Baking … A Therapy

“Whoo … slow down, please. You’re too strong and very fast. Wait for your friends, please.”

Kristee, sang chef yang kemarin mengajarkan kami cara membuat macaroons tertawa melihat saya yang mengaduk adonan kue dengan tenaga super. Sementara 3 teman yang lain melakukannya dengan gerakan lembut dan sepenuh jiwa.

Saya memang tidak bisa bergerak dengan pelan dan halus bak putri keraton. Koyok branjang kawat, kata Mama selalu pada saya. Artinya kurang lebih seperti tukang pukul, atau gubrak gabruk enggak bisa pelan. Hahahaha!

Maklum, saya terbiasa bekerja cepat. Apalagi sering melakukan banyak hal sendiri, membuat saya memang terkadang sok kuat. Padahal menjelang usia 44 tahun ini tulang sudah banyak yang teriak.

Well, akhirnya tenaga kuda saya menghasilkan macaroons dengan permukaan bagian bawah yang lengket. Berbeda dengan 3 peserta lain yang hasilnya cantik. Maklum adonan saya diaduk dengan tenaga kuda.

Kesempatan kedua saya pergunakan dengan sebaik-baiknya dan belajar dari kesalahan pertama. Macaroons batch ke-dua, saya lakukan dengan menurunkan kadar kekuatan. Walau ternyata Kristee tetap tertawa dan mengingatkan saya untuk bergerak lebih pelan menunggu peserta yang lain.

“You wait first, okay? I can not catch up with your fast movement. Hahaha!”

Ia sekali lagi tertawa geli melihat saya sudah selesai mencetak macaroons ke-dua saya. Sementara 3 teman yang lain masih memasukkan adonan ke dalam plastik. Padahal saya sudah berusaha pelan, lho. Hahaha.

Lumayan, percobaan kedua berhasil. Walau bagian bawah kering, atas malah jadi keriting. Ya salam!

Baking is never easy.

rumahmediagrup/rereynilda