Balada Al, El, dan Dul (3)

Balada Al, El, dan Dul (3)

Tak mungkin. Tidaaaak! Bunda pasti bohong. Sungguh, aku tak percaya apa yang dikatakan bunda pada ayah.

“Jangan-jangan yang ketabrak itu emaknya si El?”
Pelan ucapan bunda, tapi aku jelas mendengarnya.
Ya, pendengaranku tajam.

Aku menatap bunda. Wajahnya nampak shock. Kupandangi adik-adikku, Aluna dan Dulen. Mereka sepertinya tak mendengarnya, asik menghabiskan nasi pindang.

“Sudah dikuburkan olehku dan Pak RT di samping musala,” ucap ayah lirih.

Badanku langsung lemas. Ingin rasanya berteriak, tapi aku tak mau kedua adikku tahu apa yang terjadi. Belum saatnya.

Maka, aku diam saja. Kupendam sendiri. Dan, seharian itu aku bagai tak bertenaga. Lemas. Aku pun hanya tidur-tiduran saja di lincak.

Al dan Dul mengajakku bermain, tapi cukup kuberikan senyuman dan gelengan kepala. Ya Allah, kasihan sekali mereka.

Aku dan Aluna

Emak, benarkah engkau telah tiada?
Emak, aku lebih suka kalau engkau pergi tapi tidak selama-lamanya.
Emak, bagaimana aku harus menjaga Dul dan Al? Aku juga masih kecil ….
Sudut mataku mulai basah.

-bersambung-


Link sebelumnya

https://rumahmediagrup.com/2020/04/07/balada-al-el-dan-dul-1/

https://rumahmediagrup.com/2020/04/09/balada-al-el-dan-dul-2/


rumahmediagrup/windadamayantirengganis