Balada Al, El, dan Dul (4)

Balada Al, El, dan Dul (4)

Sejak emak tiada, aku merasa bertanggung jawab terhadap adik-adikku, Aluna dan Dulen. Mereka masih polos, mengira emak pergi karena kebandelan mereka. Salah satunya susah sekali kalau disuruh tidur.

Kupandangi wajah keduanya. Mereka tampak ceria memainkan tali gorden warna merah fanta di ruang tamu.

Al, Dul, kakak berjanji akan menjaga kalian, tekadku.

Sepeninggal emak, bunda makin menunjukkan perhatiannya kepada kami. Sore sepulang kerja, emak sering membawakan kami makanan. Kata bunda itu makan siang yang sengaja disisihkan untuk kami.

Aku menjadi terharu. Sesekali kuhibur bunda yang juga tampaknya kesepian. Aku meloncat-loncat atau mengibas-ngibaskan ekorku ke bunda. Tapi aku paling senang duduk di pangkuan bunda, saat bunda mengetik di depan laptopnya. Entah apa yang bunda tulis, aku tak tahu.

Bunda tak sepenuhnya memelihara kami. Kami masih dilepas di garasi. Tapi tidur di dalam rumah pun tak dilarang, asal kami sudah pup dulu di pasir depan rumah. Makan pagi, siang, malam disediakan. Kurang apa coba?

Kadang, bunda tidak pulang. Bunda memang orang sibuk. Jadi, kadang hanya ada ayah.
Suatu ketika kudengar ayah berkata kepada tetangga, “Ambil saja kalau mau dipelihara.”

Saat itu bunda masih di luar kota.
Esoknya saat pulang, bunda marah-marah pada ayah karena Dulen tidak ada.

Aku sendiri pun bingung, ke mana si bungsu Dulen. Ia memang lebih aktif, tidak seperti Aluna yang lembut dan kalem.

Belum sembuh dari rasa kehilangan emak, kini aku dan Aluna kehilangan Dul.
Sedihnya jangan ditanya.

-bersambung-


Link sebelumnya

https://rumahmediagrup.com/2020/04/07/balada-al-el-dan-dul-1/

https://rumahmediagrup.com/2020/04/09/balada-al-el-dan-dul-2/

https://rumahmediagrup.com/2020/04/13/balada-al-el-dan-dul-3/

***

rumahmediagrup/windadamayantirengganis