Bangga Jadi Guru SLB

Pagi ini seperti hari Kamis sebelumnya, mengenakan seragam adat sesuai peraturan pemerintah provinsi Jawa Tengah. Aku berangkat sekolah dengan rute kawasan Gedung Olahraga Tri sanja, belok kanan arah rumah sakit Adella, belok kiri ke SLB Negeri. Sekitar 12 menit perjalanan sampai juga di gedung putih ini. Motor aku parkir di depan tangga masuk gedung. Kakiku melangkah pasti, memasuki ruang tata usaha untuk finjer print.

Tidak sampai satu menit keluar kantor. Menyalakan Scoopy merah dengan hati berbunga. Jangan kaget ya Mak, memang di SLB Negeri aku cuma tamu pagi dan sore. Disini aku hanya numpang finjer, karena sekolahku swasta, menurut aturan tidak boleh memakai mesin sendiri. Dipikir-pikir seneng juga sih, berasa punya dua rumah 😃.

Enam menit kemudian sampai juga disekolah induk, tempatku mengajar.

Jam menunjukkan angka 06.46 WIB, sudah siang, tapi tidak untuk SLB. Tengok kanan kiri, masih sepi. Di area parkir baru beberapa motor terlihat, dapat dipastikan motor-motor office boy.

Benar saja, memasuki kantor sudah tersedia teh hangat dimeja. Siapa lagi kalau tidak dibuatkan mas OB yang tahu banget kebutuhan kita di pagi hari.

Ditambah jendela sudah terbuka dengan lebar, lantai bersih dan pemandangan area taman hijau yang ada di samping kantor. Subhanallah, nikmat sekali. Terimakasih mas OB 🙏.

Mensesap teh hangat, sambil menikmati lagu Ada Band yang romantis membuat Kamis ini semakin manis 😍.

Kerja disini full asyik. Berlipat nikmatnya. Tidak percaya ? Percaya saja ya, internet ada, dapat makan siang dan minum gratis, kerjaannya cuma ngurusin anak-anak berkebutuhan khusus. Tidak susah ✌️, yang penting dekat saja dengan peserta didik. Jadikan mereka partner.

Dokumen pribadi

Kenapa partner ? Karena mereka mengalami kekhususan, apalagi peserta didik yang aku pegang saat ini adalah anak berkebutuhan intelegensi. Kalau kita jadikan mereka murid yang harus siap menerima materi, jelas tidak mungkin. Pernah aku memposisikan mereka seperti anak sendiri, eh, bawaannya jadi mau marah terus.

Saat mereka, aku posisikan sebagai teman, ternyata lebih asik. Aku tidak terlalu tegang mengejar target kurikulum, materi aku transfer sambil bermain, bercerita sesuai kesukaannya.

Target tetap ada, misal untuk anak yang belum bisa membaca, mereka akan belajar sambil bernyanyi, bermain bahkan ada yang sambil tiduran dilantai. Kok bisa ?, Ya memang seperti itu kondisi di SLB. Ada anak yang dari berangkat sampai pulang sekolah nangis tidak berhenti, ada juga yang masuk kelas langsung ngamuk, bahkan ada juga anak yang datang langsung duduk, merebahkan badannya ke meja, eh, tidur.

1001 cerita ada di SLB. Senin, Selasa, hingga ketemu Senin lagi, aku tetap ada di SLB. Bukan karena tidak ada kerjaan lain, tapi aku sudah jatuh cinta dengan SLB.

Rumahmediagrup/srisuprapti