BANGGA MELANGGAR

Seringkali kita melihat sekelompok pelajar tengah asyik merokok di depan warung. Mereka tidak mempedulikan sekeliling. Aturan orang tua di rumah pun diabaikan, khawatir dianggap cupu (culun punya) bila tidak ikutan seperti teman-temanya. Apalagi dengan adanya rokok elektrik, himbauan sekolah maupun pemerintah dianggap angin lalu. Yang penting gaul.

Di jalan lain lagi, pelajar berkendara sudah dianggap biasa. Umur belum lagi cukup untuk memperoleh SIM, tetapi berlenggang dengan pongahnya di jalan beraspal tanpa helm. Belum lagi menerobos lampu merah, melaju kencang, bangga menerabas aturan.

Tak jarang pula di sekolah mereka asyik bermain gawai saat pelajaran kosong. Bertiktok ria, bermain game, mendengarkan lagu lewat spotify, atau menonton film streaming, hal tersebut yang terbiasa mereka lakukan. Adakah peraturan yang melarang menggunakan gawai saat pelajaran? Di beberapa sekolah ada yang menerapkan hal ini dengan menghimbau menyimpan gawai di loker saat masuk sekolah dan diambil kembali saat usai jam sekolah. Tetapi, masih banyak siswanya yang tak mengindahkan peraturan sekolah.

Di atas sudah disebutkan beberapa pelanggaran yang sering dilakukan oleh pelajar kita. Bangga melanggar peraturan dan menganggap hal tersebut sudah biasa. Lalu, siapa yang patut dipersalahkan?

Orang tua jaman sekarang, yang keduanya bekerja, banyak menghabiskan waktu di luar rumah tentulah sangat memegang peranan. Komunikasi langsung jarang terjalin, biasanya sebatas pemantauan melalui whatsapp. Kebersamaan antara orang tua dan anak pun kurang. Orang tua merasa sudah cukup dengan memenuhi kebutuhan anak dan menganggap komunikasi melalui whatsapp sudah cukup. Cukupkah? Anak tidak sekedar membutuhkan materi, tetapi ia pun membutuhkan kedekatan. Melalui komunikasi langsung, kita dapat menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak. Kita bisa menjadi tempat ternyaman untuk mereka sharing, sehingga tidak mencari di luar rumah.

Tidak serta merta komunikasi langsung itu efektif. Komunikasi yang satu arah akan membuat anak merasa dijajah, tidak ada kesempatan baginya untuk menyuarakan suara hatinya. Komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah. Orang tua dapat memposisikan dirinya sebagai teman, sehingga mereka pun nyaman. Tinggalkan sejenak ego kita sebagai orang tua. Terkadang kita harus masuk ke dunianya, agar paham apa yang sedang trend di dunianya, sehingga komunikasi akan berlangsung hangat.

Adakah peran sekolah dalam pelanggaran yang dilakukan siswanya? Ada, biasanya guru sendiri yang membuat peluang mereka melakukan pelanggaran. Contohnya, jam kosong. Guru yang mengajar tanpa ‘hati’ pun berperan dalam hal ini. Apa maksudnya tanpa hati? Yah, mereka yang mengajar sebatas menunaikan tugas, tanpa berusaha menjalin kedekatan dengan siswanya.

Mari para orang tua maupun guru dimana pun berada, kita benahi generasi muda kita dengan merebut hatinya melalui hal yang kecil yaitu memberi contoh teladan, jalin komunikasi, dan hadirkan empati .

One comment

Comments are closed.