Bangkit Dengan Perkataan

Bangkit Dengan Perkataan

Betapa tajamnya lidah, melebihi tajamnya pedang. Kenapa bisa demikian? Tidak lain dan tidak bukan dikarenakan dampak yang ditimbulkan dari sebuah ucapan.

Kita bisa belajar dari kisah Sang Pembebas Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih. Sebelumnya ia sempat menolak diajari oleh gurunya, semangatnya surut, lalu gurunya Syaikh Aq Syamsuddin berujar dengan mengutip sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wa sallam, “Kota Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad). Semangat Sultan Muhammad II bangkit mendengar hadits tersebut, lantas di tangannya atas izin Allah Kota Konstantinopel dapat dibebaskan, sehingga ia pun digelari Muhammad Al-Fatih.

Begitulah kekuatan sebuah ucapan, betapa perkataan yang menghujam ke hati sanubari akan bertransformasi menjadi daya luar biasa yang menggerakan jasad untuk bertindak sebagaimana yang diucapkan, Muhammad Al-Fatih contohnya.  

Perkataan yang dilontarkan akan terekam dalam memori si pendengar, bila perkataan ini baik, ia kemudian diubah menjadi persepsi yang baik, bermodal persepsi atau cara pandang yang baik inilah seseorang dapat melejitkan potensi dirinya.

Sebaliknya apabila perkataan yang terlontar adalah perkataan yang jelek, maka memori pendengar akan merekamnya sebagai  hal yang jelek dan pada akhirnya akan mempersepsikannya sebagai hal yang negatif pula. Tatkala ucapan yang didengarnya berupa kata-kata yang melecehkan atau merendahkan kemampuan dirinya, maka timbullah persepsi bahwa dirinya adalah manusia yang tidak memiliki kecakapan atau keahlian, jadilah dia orang yang rendah diri atau pesimis, sehingga mengubur potensi yang telah Allah anugerahkan.

Betapa menentukannya sebuah ucapan, karena ia berpotensi melesatkan potensi atau sebaliknya mematikannya serta menimbulkan luka yang mendalam (trauma). Tak salah Rasulullah mewanti-wanti.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam.” (HR. Bukhari Muslim).

“Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka. Beliau menjawab, ‘Dua lubang, yakni mulut (lisan) dan kemaluan.” (HR. Ibnu Majah).

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: indonesiabelajar.com