Banjir, Waspadai Penyakit dari Air Kencing Tikus

Banjir, Waspadai Penyakit dari Air Kencing Tikus

Curah hujan yang tinggi di sejumlah daerah di Indonesia seringkali diikuti dengan banjir. Banjir dapat terjadi apabila masyarakat kurang peduli kebersihan lingkungan sekitar. Misalnya membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan saluran air tersumbat dengan sampah.

Banjir mengundang munculnya sejumlah penyakit. Salah satunya adalah Leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira, dan dapat ditularkan melalui urin tikus.

Kasus Leptospirosis biasanya meningkat setelah banjir atau di musim hujan. Karena pada musim tersebut, masyarakat lebih banyak mengalami kontak dengan air kotor yang berpotensi terkontaminasi oleh urin tikus yang mengandung kuman penyebab Leptospirosis. Genangan air yang masuk ke area rumah dapat mengakibatkan aliran air kencing tikus masuk ke dalam tubuh manusia.

Penularan pada manusia terjadi saat adanya kontak langsung antara manusia dengan urin hewan yang terinfeksi, atau dengan air, tanah, dan makanan yang telah terkontaminasi urin hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira. Bakteri ini memasuki tubuh melalui kulit pada luka terbuka, kulit yang kering, atau lapisan lendir tubuh (seperti mata, hidung, atau mulut). Setelah memasuki tubuh, bakteri ini juga dapat menyebar melalui aliran darah dan sistem getah bening pada organ-organ dalam tubuh.

Gejala Leptospirosis biasanya baru muncul pada hari ke-5 hingga hari ke-14 setelah penderitanya terpapar bakteri Leptospira. Meski begitu, gejala bisa saja muncul lebih cepat, yaitu sejak hari ke-2, atau justru muncul lebih lambat, hingga hari ke-30 setelah terpapar bakteri. Ciri-ciri orang yang terkena Leptospirosis di antaranya : demam, batuk, diare, muntah, nyeri perut, sakit kepala, ruam kulit, nyeri otot, hilang nafsu makan, mata merah, kulit dan mata menguning.

Jika Anda merasa memiliki gejala Leptospirosis, segera periksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes penunjang, seperti tes darah dan urin, untuk memastikan diagnosis Leptospirosis. Jika benar terdiagnosis leptospirosis, dokter akan memberikan pengobatan dengan antibiotik. Sedangkan untuk kasus Leptospirosis berat, penderita mungkin perlu dirawat inap di rumah sakit dan dievaluasi ketat oleh dokter dan perawat.

Adapun cara untuk mencegah diri dari bahaya Leptospirosis adalah sebagai berikut :
• Berperilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
• Menyimpan makanan dan minuman dengan baik.
• Mencuci tangan dan kaki serta sebagian tubuh lainnya dengan sabun.
• Membasmi tikus di rumah atau di kantor.
• Membersihkan dengan desinfektan pada bagian-bagian rumah, kantor, atau gedung.
• Tutup luka atau lecet pada kulit Anda dengan perban atau penutup lain yang kedap air.
• Hindari menelan, berenang, atau mandi di air banjir atau sumber air apa pun yang mungkin terkontaminasi urin hewan atau limpahan air banjir.
• Kenakan pakaian pelindung air atau sepatu bot karet di area banjir atau tanah yang mungkin terkontaminasi air kencing hewan.

Itulah beberapa cara untuk mencegah bahaya Leptospirosis yang mengintai di kala banjir. Berperilaku hidup bersih dan sehat tidak hanya perlu dilakukan saat terkena banjir, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari. Agar tubuh tidak mudah terserang penyakit ❤

rumahmediagrup/arsdiani