Bayar Sesuai Tarif Jika Ingin Selamat

Budhe Ndut, siapa yang tak kenal ibu bertumbuh tambun ini. Budhe Ndut orang yang super ramah. Kami memanggilnya Budhe Ndut, karena beliau ingin dipanggil seperti itu. “Gak papa, cocok kan dengan body-ku. Jadi ndak usah sungkan memanggilku yo,” celoteh Budhe Ndut.

Saat ada acara di RT beliau selalu aktif berperan. Jago masak, hampir disetiap acara RT makanan yang kami nikmati hasil masakan Budhe Ndut. Komando memasak ada di tangan Budhe. Pokoknya Budhe is the best-lah, begitu kami mengapresiasinya.

Suatu saat semua disibukkan dengan persiapan memasak untuk acara peringatan Maulid Nabi, menu yang disiapkan lontong kare. Ternyata ada salah satu bahan tertinggal di pasar, tepatnya di penjual kelapa parut. “Aku saja yang ambil, ibu-ibu kerjakan yang lain ya,” ujar Budhe Ndut.

Jarak pasar lumayan jauh, Budhe Ndut berjalan ke depan untuk memesan becak agar dapat mengantarkan ke pasar. “Pasar, bang. Lima ribu yo,” ucap Budhe dan langsung naik ke becak.

“Sepuluh ribulah, Budhe. PP delapan belas ribu, nanti aku tungguin Budhe,” ujar abang becak memelas.

“Bang, aku gak belanja. Cuma mau ambil santan yang ketinggalan jadi cepet. PP sepuluh ribu aja, yo!. Yuk cepetan,” ujar Budhe Ndut tak sabar.

Abang becak segera mengayuh becaknya dengan sekuat tenaga, jalan lubang diterjangnya, angkot disalipnya. Becak dikayuh dengan cepat, miring kanan, miring kiri, dikayuh dengan kuatnya.

“Bang, bang! Ati-ati, jalan lobang!. Piye toh iki. Pelan-pelan, duh Gusti,” teriak Budhe Ndut ketakutan. Abang becak tak menghiraukan teriakan Budhe Ndut. Dikayuhnya sekencang-kencangnya hingga sampai di depan pasar.

“Piye toh, bang. Emang abang gak ingin selamat?” tanya Budhe Ndut dengan nada marah dan mata melotot.

“Ya pengenlah Budhe. Habisnya Budhe sih, bayar lima ribu kok mau selamet. Kalo ingin selamet ya Budhe bayar sesuai tariflah,” jelas abang becak tanpa merasa bersalah. Budhe Ndut hanya bisa menghela napas dan mengelus dada.

rumahmediagrup/ She’scafajar

5 comments

Comments are closed.