Be smile

Oleh : Allys Setia Mulyati

Tangan lemah Ririz menggapai gelas berisi godokan campuran air gula merah, sirih dan jahe buatan ummi Ratih. Entah kenapa sepulang pembelajaran terakhir di pondok tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga. Seolah sajak lesu yang dibawakan sepenggalan bait.

Ummi Ratih sangat khawatir, dan Ririz pun sudah merasa harus menyerah meminta bantuan dokter jaga malam itu untuk di periksa.

“Ummi? Apa sebaiknya aku ke dokter jaga saja malam ini? Aku merasa lemas begini ummi”

“Iya, ummi juga khawatir. Mungkin kamu terlalu kecape’an”

“Iya, Ummi…”

“Nanti ummi suruh bang Karbo untuk mengantarmu. Kamu ditemani Retno ya”

“Iya, Ummi”

Dan benar saja, tensi darah yang rendah. Membuat semua terasa tak memberi gairah. Sekedar kurang darah, harus banyak asupan makanan bergizi yang masuk kedalam aliran darah.

“Makanya, kamu kalo makan jangan lupa dihabiskan. Kurangi jajan yang kurang bergizi”

Ririz hanya tersenyum lemas, segera makan dan minum obat langsung istirahat. Semoga besok kembali bisa beraktivitas seperti sediakala.

Entah pikiran apa yang masuk saat itu, Ririz hanya memikirkan seseorang dalam hatinya. Padahal Ririz menyadari kalau hatinya hanya milik sang Pemberi Hati. Tidak ada seorangpun yang boleh merasai rasa yang mendekat.

“Astaghfirullah” Ririz terbangun dari mimpi malamnya. Kenapa Tengku ada di dalam mimpinya tadi. Bukankah rasa itu hanya selintas lalu, tidak pernah terbayangkan kembali.

Ummi Ratih menghampiri dengan mukena yang masih dipakainya. Menanyakan kondisi Ririz pagi dini hari.

“Bagaimana sekarang? Sudah baikkan?”

“Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Ummi”

Semenjak pulang dari dokter jaga, Ririz merasa ada yang berbeda dengan Tengku. Dia menghilang. Di sekolah pun tak nampak batang hidungnya. Ririz sempat menebak-nebak, meski bisa jadi tebakannya itu salah besar.

“Kamu sehat Riz?”

Sapa ustadz Rizwan selesai pelajaran Tarikh Islam. Rupanya kabar Ririz sakit viral di kalangan dewan ustadz dan ustadzah. Entah dari mana sumbernya berasal. Cukup membuat hati Ririz berbunga-bunga ditanya ustadz senior itu.

“Alhamdulillah, Ustadz”

Jawab Ririz sedikit lirih sambil menundukkan pandangan.

“Terus jaga kesehatanmu, itu juga penting agar tetap semangat belajar dan beribadah”

“Iya, baik Ustadz”

Seraya terus berpisah lajur berjalan untuk santri putri ke pondokan sebelah kanan. Ustadz Rizwan pun segera pergi untuk beristirahat di ruangan depan.

Ririz merasakan ada yang aneh, kenapa Tengku tidak kelihatan di pondok bahkan di kelas tadi. Mungkinkah dia pulang atau sakit di pondokan? Ah, pikiran tidak baik itu dihempas Ririz. Tak ingin terus terlalu memikirkan.

Belum juga selesai memikirkan Tengku, malah orangnya telah berdiri disampingnya Ririz sambil bertanya.

“Katanya kamu sakit? Bagaimana kabar hari ini ?”

Ririz mengangguk tanda jawaban singkat kalau dia sudah merasa sehat. Merasa risih ditanya, Ririz buru-buru pergi duluan meninggalkan Tengku yang berjalan agak di belakangnya.

Suasana semakin membuat tak karuan.sikap baik mereka semua kepada Ririz, membuatnya semakin terus memperhatikan Tengku, tetapi Ustadz Rizwan juga. Bukankah para santri tidak boleh memikirkan hal keduniawian yang sifatnya hanya menipu keseharian saja. Lebih baik selalu berubah melakukan kebaikan agar selalu di berikan hidayah.

Apakah mungkin rasa yang tiba-tiba datang mengganggu akan mempengaruhi kesehatan lahir dan batin setiap manusia. Seperti layaknya Ririz, terlalu memikirkan seseorang yang belum tentu juga akan memikirkannya.

Selalu tersenyumlah, nikmati pagi dengan bisikan Cinta hanya dari-NYA. Balasan indah kan selalu datang tepat di waktu yang tepat menurut KehendakNya.

ilustrasi gambar : google.com