Bebanmu Bebanku juga

  “Pusing Bu,  banyak tugas”.

    “Mending sekolah aja,  Bu”.

    “Ga dikasih uang jajan Bu”.

    “Habis kuota Bu”.

    Berbagai keluhan anak-anak saat mereka harus belajar di rumah. Bagaimana tidak mengejutkan,  saat tiba-tiba saja pemerintah Indonesia melalui mendikbud memberlakukan social distancing selama dua minggu. Dengan pemberlakuan keputusan tersebut sontak saja membuat kami dilanda dilema. Antara senang dan tidak. Mungkin awalnya bahagia karena bisa beristirahat di rumah. Namun ternyata tidak demikian. Proses pembelajaran harus tetap berlangsung. Meski diam di rumah. Maka berbagai cara dilakukan agar pembelajaran bisa terlaksana.  Karena sebelumnya tak ada kabar terlebih dulu,  maka penyampaian tugas disebar melalui WA wali kelas agar bisa sampai kepada anak-anak.

    Penyampaian berita belajar di rumah pun kami sampaikan melalui WA karena kami tidak sempat bertemu dengan anak-anak terlebih dulu. Ada yang seneng,  ada juga yang masih bertanya-tanya.

    “Benar Bu, besok Libur”?

    “Iya”.

    “Kalau besok libur, aku mau ke rumah kakak di Bandung “.

    “Ih,  ga boleh. Kamu ga boleh ke mana-mana”.

    “Iya Bu kenapa”?

    Itulah awal percakapan kami di WA grup kelas.

    Mereka mengira bahwa yang dimaksud belajar di rumah itu sama dengan libur dan bisa jalan-jalan. Namun sebenarnya dengan diam di rumah itu untuk membatasi diri dengan lingkungan sosial kita. Kita harus jaga jarak dengan siapa pun, termasuk anggota keluarga kita. Seiring dengan perkembangan berita di media mereka mungkin akhirnya tahu, mengapa sekolah diliburkan. Bahaya telah mengancam dunia termasuk Indonesia. Sudah banyak korban berjatuhan. 

    Baru seminggu mereka sudah banyak mengeluh. Ternyata ga enak belajar  di rumah.  Banyak materi dan tugas yang harus dikerjakan. Tanpa penjelasan dari guru, tapi mereka dapat bimbingan dari orang tua di rumah. Orang tua merasakan bagaimana mengajar anaknya sendiri ternyata tidak mudah.  Ada lagi berita yang membuat hati ini memanas, saat viral berita di medsos ada ibu-ibu yang bikin status bahwa dengan sekolah libur, guru  makan gaji buta.

    Hai Mak,  mikir dong,  baru seminggu membimbing anak sendiri, Anda udah kewalahan. Kami di sekolah yang harus membimbing anak bukan hanya satu tapi banyak. Bukan hanya satu kelas. Tapi banyak kelas. Sampai sekian ratus anak yang harus kami bimbing dengan berbagai latar belakang yang berbeda.  Dengan perilaku mereka yang kadang membuat kami stress. Tapi kami lakukan insya Alloh dengan ikhlas. Anda baru seminggu saja, anak anak Anda belajar di rumah sudah kerepotan. Kami di rumah juga ga diam. Tapi kami juga melayani pertanyaan dari anak-anak yang rajin mengerjakan tugasnya. Sementara kami juga harus membimbing anak sendiri.

    Awalnya kami selaku guru memberikan tugas agar anak punya kesibukan di rumah. Jadi mereka ga keluyuran. Karena memang anak-anak ga boleh ke luar rumah. Namun ternyata kami juga harus melaporkan perkembangan belajar anak didik kami kepada atasan kami secara daring. Walaupun dengan keterbatasan fasilitas yang dimiliki karena tidak semua anak memiliki alat komunikasi. Apalagi seperti kami yang tinggal di daerah banyak sekali kendalanya. Anak yang malas tetap saja dengan kemalasannya. Apalagi saat darurat corona diperpanjang lagi selama dua minggu. Tuntutan kami pun bertambah.

    So,  jangan anggap kami selaku guru memberi beban. Karena kita pun punya beban yang sama. Kerjakan semampunya. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari bencana ini. Kita semakin dekat dengan anak-anak kita. Kita bisa mendapat ilmu pengetahuan bagaimana pembelajaran secara daring sehingga kita bisa memanfaatkan teknologi dengan semestinya. Semoga musibah ini segera berakhir.

Foto: koleksi pribadi