BELAJAR

BELAJAR

(Sarah Pasaribu)

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup, oleh Sarah Pasaribu.

Aku berdiri di depan pintu pagar besi sambil melihat sekeliling rumah, lalu pandangan tertuju ke arah ruang tamu sambil mengawasi keadaan. Suasana begitu tenang. Seorang anak kecil, duduk di depan televisi menikmati adegan Paw Patrol sambil mengunyah sepotong kue kering. Sesekali kudengar suara peralatan dapur dari ruangan sebelah.

Siang itu adalah jam istirahat kerjaku. Aku memutuskan untuk pulang sebentar dan makan di rumah.

“Adek!” panggilku.

Terkejut dengan suara panggilanku, Adek berdiri dan berteriak kegirangan.

“Mami!” lalu berlari ke arah pagar. 

Suci, pengasuh Adek, yang sedang sibuk di dapur pun mendatangi pagar menyambutku lalu membuka kunci pagar.

No, keluar! Go away, Mami!” kata Adek sambil menahan pintu pagar agar tidak terbuka, dan telunjuknya terayun memberi isyarat agar aku pergi. Aku terdiam dan bingung. Dari mana Adek belajar mengusir seperti itu?

“Eh, Adek enggak boleh begitu,” kata Suci membujuk.

 “Loh, kok Adek ngomong gitu, sih?” ujarku sambil berusaha membuka pagar.

No, go away, Mami!” katanya lagi, dengan hidung dan kening berkerut dan mulutnya dimancungkan. Kali ini kesabaranku habis.

“Angkat dia, aku mau masuk,” kataku pada Suci.

Pintu pun terbuka, dan aku masuk ke dalam rumah diiringi tangisannya yang pecah melihat aku berhasil masuk. Waktuku tidak banyak, pikirku, sambil melihatnya masih menangis.

“Kalau masih mau nangis, Adek masuk ke dalam kamar,” kataku sambil menatapnya dengan tajam. Kulihat ia pun berusaha untuk berhenti menangis.

“Sini,” panggilku sambil membungkuk dan membuka tangan ingin memeluknya. Perlahan ia pun datang dan memeluku.

“Adek enggak boleh ngomong gitu sama Mami, ya? Kalo Mami pulang, bilang halo Mami, come in Mami,” kataku pelan sambil mengusap kepalanya.

“Iya, Mami,” jawabnya perlahan.

Aku hanya perlu memangku dan memeluknya sebentar, sebelum perhatiannya kembali ke acara televisi kesayangannya lagi.

Aku tidak habis pikir, siapa yang mengajari Adek untuk berkata keras dan mengusirku? Selama wabah COVID 19, kami tidak menerima tamu sama sekali, kecuali via online. Acara televisi pun kami batasi. Lalu dari mana dia belajar semua itu? Apakah ada orang yang mencoba menghasutnya agar membenciku, ibu kandungnya? Berbagai kemungkinan terputar di otakku seperti drama sinetron. 

Sore menjelang malam, terdengar kunci pintu pagar terbuka.

“Adek, Papi pulang,” kataku.

Anak kecil itu terpekik dan berlari kegirangan dari dalam kamar, sambil berkata, “Papi!”

Lalu tiba-tiba, ia kembali memegang pintu pagar, dan menutupnya dengan keras sambil berkata, “Papi, go away!” dengan raut muka yang berubah marah.

“Ehhh! Adek enggak boleh begitu,” kataku lagi. 

“Bilang, halo Papi, welcome home,” lanjutku.

No, get out!” katanya membantah, hingga adegan siang tadi pun terulang lagi. Aku benar-benar tidak habis pikir.

Sehabis makan malam, aku pun duduk di ruang tamu, dan mencari sosok kecil itu.

“Adek, where are you?” panggilku, ketika kudengar sesuatu.

“No, Adek! Get out from this room! Abang lagi belajar,” diikuti dengan suara pintu tertutup, dan tak lama kemudian, ada suara terdengar dari kamar lainnya,

“Go away! Don’t play with Kakak’s book!”

Kulihat anak kecil itu masuk ke kamarku, lalu terdengar suara yang membuatku tertegun menyaksikan satu proses belajar. 

No, no, no! Jangan pegang! Get out!” 

Adek … menangis.

(Tamat)

(Ilustrasi: Re Reynilda with Canva Apps)