Belajar dari Penjual Sayur

Belajar dari Penjual Sayur

Belanja sayuran, saya sempatkan mengobrol dengan si ibu penjualnya. Beliau cerita, dulu sebenarnya ia anak orang kaya. Orangtuanya punya sawah berhektar-hektar di desa asalnya. Namun, si ibu penjual sayur tidak mendapat bagian sedikit pun. Saudara-saudaranya menguasai sawah tersebut.

Si ibu ikhlas, dia memilih memulai usaha sendiri dari nol. Tanpa bergantung dari harta orangtuanya.

Tahun-tahun awal merintis usaha, beliau masih berjualan sayur keliling. Hutangnya juga banyak. “Hutang saya seleher, Mbak.” Kata beliau sambil mengangkat tangannya menyentuh leher.

“Tapi saya tidak putus asa. Saya sering mengunjungi pengajian seorang ustadz, orangnya baik, pemilik sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.”

“Beliau menyarankan saya berangkat umroh. Di sana saya mesti berdoa supaya Allah bebaskan saya dari hutang yang sudah mencekik leher itu.”

Akhirnya dengan menguras seluruh tabungannya, beliau berangkat umroh. Dan benar, beberapa tahun kemudian hutangnya beres. “Rezeki itu misteri, Mbak. Pemiliknya Allah. Jadi memang kita pasrahkan saja pada-Nya. Yang penting ikhtiar kita maksimalkan.”

Setelah usahanya makin sukses, Allah menguji keikhlasannya. Tiba-tiba suatu hari ibunya datang ke rumahnya, jauh-jauh dari kampung. Naik bus sendirian. Ternyata si ibu disakiti oleh anak-anaknya yang berjumlah 7 orang itu. Yang telah menghabiskan harta bendanya. Si ibu ingin tinggal di Jogja saja, bersama si anak yang justru disia-siakan saudaranya, dan dulunya beliau tak mampu membela.

Singkat kata, bakti seorang anak terbukti membawa keberkahan yang besar. Dengan menjaga sang ibu di masa tuanya, penjual sayur itu naik kelas. Rezekinya berlimpah, usaha sayurnya ramai pembeli. Yang dulu hanya berupa kios kecil kini berubah menjadi toko sayur di lantai bawah rumah tingkat tiga yang berhasil dibangun. Masya Allah.

rumahmediagrup/meikurnia