Belajar Mengaji

::Belajar Mengaji::

“Assalamu’alaikum Ummi…”
“Assalamu’alaikum Ummi…, ngaji”

Suara anak-anak bersahutan ramai di luar. Mereka gak akan berhenti kasih salam kalau belum dijawab. Segera kurapikan sajadah dan mukena, ambil jilbab kemudian membuka pintu, menjawab salamnya dan mempersilakan mereka masuk. Salah seorang dari mereka langsung menggelar karpet tanpa ku suruh.

“Duduk dulu ya, ummi mau ke dalam sebentar.” Baru saja ku tinggal, sudah ramai, namanya juga anak-anak, main everywhere di benaknya. Ku tengok dua balita yang sedang menyelesaikan makan malamnya. Sementara yang besar sudah bergabung di ruang depan dengan teman-temannya.

Nyaris setiap malam, anak-anak di sekitar tempat tinggalku datang ke rumah untuk mengaji. Orang tua mereka mempercayakan anak-anaknya untuk mengaji di sini.

Alhamdulillah, rumah kami memang terbuka hampir 24 jam. Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa ada saja yang datang. Entah sekadar main atau ada keperluan lain.

Anak-anak yang belajar di rumah mayoritas laki-laki. Ada beberapa anak perempuan, tapi kadang tidak datang. Jadilah ummi selalu ada di antara para jagoan.

Tidak setiap malam kami menderas alqur’an atau iqro’. Ada satu malam yang kami isi dengan pelajaran sekolah, atau menggambar dan mewarnai. Diseling membaca yasin, asmaul husna dan sholawat nariyah pada malam Jum’at. Semuanya bertujuan agar anak-anak senang dulu hatinya untuk belajar mengaji. Jika hati senang maka mereka gak bosan untuk datang kembali.

Saat ujian pun, aku tak meliburkan mereka mengaji, meski kadang ada saja yang tak hadir dengan alasan, ‘disuruh belajar sama mama’. Padahal, waktu maghrib ke isya itu hanya sebentar, mereka di rumah pun juga gak akan belajar setelah maghrib. Yang ada hanya pegang-pegang buku depan televisi, sambil nyemil kue, belajarnya setelah azan isya.

“Nak, usahakan jangan libur dari membaca alqur’an, walau hanya satu, dua ayat. Kalian tidak datang ke rumah ummi, gak apa asal tetap mengaji. Jangan sampai tak bisa mengaji, siapa yang akan membacakan alqur’an saat orang tuamu sakit atau dalam sakaratul maut? Apa kau akan menyewa orang untuk sekadar melafazkan ayat alqur’an saat orang tuamu meninggal?”

“Ummi tidak akan memaksa kalian untuk mengaji ke sini, hanya saja jika kalian tidak datang ke sini, apa kalian baca alqur’an di rumah?”
Mereka akan menjawab serempak, “nggak Mi…”

Anak-anak memang senang main, tapi tetap diingatkan untuk belajar mengaji. Boleh pandai menyanyi, jago futsal, cakap akting di layar kaca, tapi sayang jika tak mampu membaca ayat-ayatNya, lalai berterima kasih kepada yang memberimu kehidupan. Sungguh karena cintaNya maka kita bisa menikmati semua fasilitas kehidupan.

Ada hal yang membuatku kadang tergelak melihat kelakuan anak-anak. Mereka sering berebut baca lebih dulu, ribut minta nilai yang bagus untuk hasil pekerjaannya. Terkadang gak mau pulang, padahal umminya bukan nyonya yang kerjanya cuma duduk manis. Banyak pekerjaan rumah yang menunggu. Tak jarang mereka kubiarkan di ruang mengaji sampai bosan main dan pamit pulang.

Tetaplah belajar mengaji meski sudah duduk di tingkat lanjutan. Rumah ummi tetap terbuka untuk kalian, selagi ummi masih bisa menemani kalian belajar. Jangan bosan mengaji, karena dari huruf-huruf alqur’an yang kalian baca setiap harinya, bisa membawa kemudahan dan keberkahan dalam hidupmu.

Last but not least, anak-anak kita bukan hanya anak yang terlahir dari rahim kita. Sayangi mereka seperti anak kita sendiri. Maka mereka akan memberikan kasih sayang dan doa yang tulus untuk kita.

Salam wa rahmah

Menulis adalah caraku menasihati diri.

rumahmediagroup/afafaulia18