Belanja dengan Hati

Belanja dengan Hati

Membaca kisah orang-orang yang seenak hati menawar barang dagangan orang lain, rasanya dada ini ikut sesak. Pembeli senang, namun sang penjual belum tentu lega dengan hasil yang didapat.

Transaksi dengan tawar menawar biasanya terjadi orang per orang dan kebanyakan terjadi pada pedagang kecil, misalnya saja pedagang keliling atau pedagang di pasar tradisional.

Bagaimana perasaan pedagang yang barang dagangannya ditawar semurah mungkin? Inilah salah satu curahan pedagang di pasar tradisional.

Kisah ini dialami seorang pedagang lauk pauk di pasar tradisional.

Semua orang pasti tahu kalau di pasar tradisional terjadi tawat menawar. Itu hal yang lumrah. Namun, harapan para pedagang di sana, menawarlah bila memang masih memungkinkan barang tersebut dapat dibeli dengan harga lebih murah. Harga barang-barang di pasar tradisional itu sudah lebih murah dari harga di pasar modern seperti swalayan.

Pedagang pasar tradisional juga menetapkan keuntungan yang tidak terlalu besar dalam bertransaksi, karena di sini banyak penjual produk sejenis tentunya berusaha menarik pembeli untuk datang. Selain itu, akhir-akhir ini harga pokok barang juga cukup tinggi, hingga pedagang pun menyiasati ukuran atau jumlah produk diperkecil namun harga tetap terjangkau.

Pedagang pasar tradisional sebagian besar adalah usahawan kecil-kecilan yang belum tentu mengenal ilmu manajemen maupun keuangan. Yang utama produk laku dan habis terjual, agar esok menjual produk baru yang segar. Tidak ada sarana penyimpanan produk seperti di pasar modern.

Berbelanja di pasar tradisional berarti mendukung cinta pada produk sendiri, karena para pedagang dominan menjual hasil bumi negeri sendiri.

Jadi, saat pembeli berbelanja di pasar tradisional, sesungguhnya membantu perekonomian usaha kecil dan turut memajukan produk dalam negeri.

Pembeli yang terhormat, belanjalah di tempat kami dengan hati nurani dan bijak. Produk segarnya dapat, anda senang dan kami pun bahagia.

Inshaallah

rumahmediagrup/hadiyatitriono