Bencana Dan Ketaqwaan, Dua Sisi Beda Yang Saling Terhubung

Bencana Dan Ketaqwaan, Dua Sisi Beda Yang Saling Terhubung

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Jakarta masih harus siaga banjir. Pada Minggu (05/01) pagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini, yang ditindaklanjuti oleh BNPB dengan mengeluarkan imbauan, khusunya bagi warga di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya.

“Ke depan masih ada potensi hujan ekstrem. Kami imbau, warga yang masih terkena banjir untuk tetap berada di pengungsian, khususnya di daerah-daerah di mana air masih tinggi,” kata juru bicara BNPB, Agus Wibowo, kepada BBC News Indonesia, hari Minggu.
(https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50962493)

Hujan dan longsor di Provinsi Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejauh ini menyebabkan 60 orang meninggal dunia. Menurut keterangan BNPB, korban jiwa di Jakarta dan Bogor masing-masing 16 orang, Kota Bekasi dan Lebak masing-masing sembilan orang, dan sisanya di Kota Bogor, Kota Depok, Tangerang, Tangerang Selatan dan Bekasi. Data dari Kementerian Sosial menyebutkan korban meninggal termasuk tenggelam dan terseret banjir di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang dan terkena longsor di Depok.

Sehingga bisa jadi selama satu minggu ke depan warga masih harus waspada banjir. Karena tahun ini diketahui curah hujannya tertinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan korban jiwa juga cukup banyak, yang membuat banyak pertanyaan kenapa masalah banjir masih selalu menjadi rutinitas tahunan di Jakarta.

Banyak analisa para ahli yang menyebutkan masalah topografi dan tata kota adalah masalah utama di Ibu Kota. Ditambah lagi banjir air rob pun ikut memperparah banjir Jakarta. Semakin melengkapi dengan gemuruh rencana pindah Ibu Kota.

/Ketaqwaan Dalam Setiap Bencana/

Dalam pandangan hidup Islam, setiap apapun yang terjadi di atas permukaan bumi semuanya tidak terlepas dari takdir dan perbuatan Tuhan, sebagaimana firman Allah:

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata “ Lauhul Mahfudh.“ (QS: Al An’am : 59) .

Oleh sebab itu, sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa setiap bencana dan musibah adalah iradah (kehendak) Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Disamping itu kita juga meyakini bahwa dalam setiap bencana atau musibah dan apa saja yang terjadi itu merupakan takdir ilahi yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu sebab tidak ada kejadian di muka bumi ini terjadi dengan sia-sia tanpa kebaikan dan tujuan tertentu.
“Dan (ingatlah) bahwa Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main. (QS. Al Anbiya/21 : 16 / QS. ad Dukhan/44 : 38 ).
.
Setiap bencana alam merupakan takdir Ilahi, dan segala takdir yang terjadi merupakan iradah (kehendak) Tuhan yang Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Hal tersebut terjadi diluar kehendak manusia, bahkan manusia tidak pula bisa mencegahnya, jika Allah sudah berkehendal. Dan dalam setiap bencana yang terjadi terdapat kebaikan dan rahmat Ilahi.
.
Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ melarang umatnya untuk mencaci maki taqdir seperti musibah atau kejadian apapun yang telah terjadi, sebagaimana dinyatakan dalam hadis : “Janganlah kamu menuduh Allah dengan suatu tuduhan yang tidak baik pada setiap kejadian yang sudah ditaqdirkanNya“. (Hadis Riwayat Imam Ahmad ).
.
Bencana alam atau musibah juga dapat merupakan peringatan Allah kepada manusia agar segera kembali kepadaNya.

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Pada waktu mereka lupa atas apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami akan bukakan bagi mereka semua pintu-pintu segala sesuatu, dan apabila mereka bergembira dengan apa ( nikmat ) yang datang kepada mereka, Kami akan ambil apa yang telah Kami berikan tersebut, dan mereka akan gagal sepenuhnya. “ (QS. Al An’am : 44 ).

Kita pahami bersama, bahwa kemaksiatan bukan saja tentang perselingkuhan, perzinahan, aksi kriminalitas, penggunaan dan pengedaran narkoba, dll. Kemaksiatan ini dimaknai lebih kepada ketidak taatan dan pelanggaram kita terhadap apa-apa yang telah Allah perintahkan dan apa-apa yang telah Allah larang. Kita tahu sebagai seorang mukmin, bahwa aturan yang Allah berikan ada mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Serta meliputi segala aspek kehidupan.

Sehingga teguran Allah dengan adanya bencana banjir, tanah longsor, adalah bentuk kasih sayang Allah dengan memberikan peringatan untuk kita. Sehingga hal ini menuntut kesadaran kita sebagai seorang hamba, atas apa yang telah kita lakukan. Pastinya ketika para hamba ini tidak segera sadar maka akan Allah turunkan adzab. Naudzubillah.

Rumahmediagrup/endahsulis1234