Benci tapi Cinta, Haters atau Lovers?

Benci tapi Cinta, Haters atau Lovers?

“Dia itu kepoin aku terus. Kalau nggak ditanggapi, terus meneror! Maunya apa, sih? Aku blokir, eh dia bikin akun baru lagi. Minta pertemanan lagi.”

“Dia menjelek-jelekkanku di setiap postingannya di medsos. Katanya karyaku jelek, tidak pantas tayang. Tetapi anehnya yang menikmati karyaku, kok, banyak? Sedangkan yang mengagumi dia malah nggak ada. Kan, aneh? Apa betul karyaku sejelek penilaiannya?”

“Aku bingung. Tiap ketemu di satu proyek, dia selalu nyinyir terus. Tapi anehnya kok dia ada terus di proyekan bareng teman-temanku yang otomatis bakalan melibatkanku juga. Jadi sebenarnya dia itu benci atau cinta padaku, sih?”

Hai, Sobat. Pernah mengalami salah satu kasus di atas? Merasa dikuntit, diteror, dimata-matai dan sebagainya. Berbagai motif menjadi alasan orang-orang yang suka menguntit kita tersebut. Dari yang memang sungguhan benci sampai yang sebenarnya cinta dan kangen, tapi mungkin terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. Asyik!

Kira-kira cocoknya mereka disebut apa, ya? Haters? Tapi kalau benci, kok menguntit terus? Sampai ada yang hafal rutinitas kita setiap harinya. Kepoin apapun yang kita posting di medsos. Nggak siang, nggak malam. Nah lho! Berasa artis Hollywood yang dikuntit paparazzi jadinya, ya kan?

Ataukah pantasnya disebut lovers? Soalnya kan sampai hafal seluk beluk keseharian kita. Coba deh jawab dengan jujur, kita bakalan menghafalkan keseharian seseorang yang kita cinta atau yang dibenci? Pasti akan lebih memilih menghafalkan keseharian orang yang kita cintai dan tak mau ambil pusing dengan orang-orang yang menyebalkan. Nah!

Iya apa iya? Ya iya, dong. Hahaha.

Terlepas dari apakah para penguntit, kepoers, nyinyirers dan sebutan-sebutan lainnya tersebut, kita tetap harus berpikir positif. Kenapa? Biar kita tidak terbawa emosi dan membalas perlakuan tidak menyenangkan tersebut dengan lebih jahat lagi. Pepatah orangtua Jawa dulu bilang “Sing waras, ngalah”. Artinya yang bisa berpikir bijaksana dan sabar, mengalah saja. Tidak usah membalas perlakuan buruk orang lain dengan keburukan lagi.

Daripada kita sibuk “membalas” perhatian para haters(ataukah lovers?) tersebut, lebih baik kita alokasikan waktu, tenaga dan produktivitas pada hal-hal yang positif. Kita sibuk berkarya, lagi dan lagi. Segala macam bentuk cemoohan, hinaan, ledekan, dan sebagainya, cukup kita tanggapi dengan produktivitas yang elegan. Yaitu menghasilkan karya-karya yang baik, yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kita tak bisa memaksa orang untuk menjadi seperti apa yang diharapkan. Kita tak bisa menuntut mereka untuk selalu mengapresiasi karya kita dengan positif. Selama kita memegang prinsip yang benar, di jalur yang lurus, tidak bertentangan dengan norma, etika dan agama yang dianut, maka tak perlu merasa khawatir atau sempit.

Seperti lirik lagunya mendiang Chrisye, “Aku tahu ku takkan bisa/ menjadi seperti yang engkau minta ….

Biarkanlah para haters tersebut “berkicau” sesuka hati mereka sampai puas. Tak perlu didengarkan. Pakailah kacamata kuda dan yakinilah bahwa hukum tabur tuai itu ada. Karma itu ada. Suatu saat Tuhan dan waktu yang akan menunjukkan, bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk adanya. Takkan tertukar dan takkan salah, asalkan kita tetap teguh pendirian alias istikamah.

So? Are they hate or love us? Haters or lovers?

Nggak usah diambil pusing. Semangat berkarya dan salam literasi. Tetap bahagia.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah