Bengawan

Bengawan

Aku terbit dari sela akar gunung yang menjulang. Menari dari puncak keanggunan, melenggok luwes di antara rimbun belukar. Arusku menderas, liar. Kadang sejenak berpusar membentuk kedung keramat.

Perawan desa tanpa malu menjadikanku bahan gurauan. Bertiga, berlima mereka berbuka dada, menyipakku dengan mesra.

“Hati-hati! Ada sepasang mata hendak mencuri kemolekan kalian.” Aku tersenyum, lirih mengingatkan. Jejaka itu lenyap di balik dedaunan.

Anak-anak berenang riang. Riakku serupa tangan nenek yang lembut memijat punggung dan kaki mereka. Tawa bocah buyarkan perih ibu yang terluka.

Gaduh kumuh penduduk kota. Menyapaku di ujung cakrawala. Buih dan ampas bercampur lumpur dosa.

“Teganya kalian! Menodaiku siang dan malam.” Beningku berganti lusuh. Nafsu mereka menghentakku.

Aku murka!

Bandang menerjang hanyutkan semua yang ada. Menangislah wahai manusia! Nikmatilah gundah dalam nestapa.

rumahmediagrup/meikurnia

One comment

Comments are closed.