Berbagi Cinta dengan Burasa


Berbagi Cinta dengan Burasa

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

[Bun, saya pesan masker dua ya, modelnya seperti yang saya fotokan, motif kartun ya, ukurannya kecil aja 18 * 7 cm, untuk bocil.]

Aku kirim chat melalui aplikasi whatsaap ke Bu Yeti, saudara seiman yang lagi buka usaha produksi masker kain.

[Jadinya besok ya Mbak, biar dijahitkan Devi.] Tidak perlu menunggu lama, chat yang ku kirim sudah dibalas.

[Ok, tidak keburu juga pakainya.] Balasku, takut merepotkan karena ukurannya minta yang mini.


“Assalamu’alaikum…. ” Suara ketukan di pintu menghentikan aktivitas memasakku.

“Wa’alaikumsalam…. ” Aku sambar gamis dan kerudung yang selalu tersedia di dekat pintu dapur, jaga-jaga kalau ada tamu mendadak seperti ini.

Segera kubukakan pintu.

“Wah, Bunda Yeti ada Uyuuun juga, ayo masuk”

“Ini masker nya udah jadi!”

“Oya, wah, trimakasih, berapa Bun ini harganya?”

“Sepuluh ribu saja, mbak.”

“Oke, bentar saya ambilkan uang.”

Begitu aku balik ke ruang tamu Bu Yeti menyodorkan keresek berisi sesuatu.

“Apa ini Bun?” Tanyaku antusias.

“Ini namanya burasa, makanan khas sulawesi, mamak disana suka bikin ini buat menyambut Ramadhan.” Dari nada suaranya terdengar sarat kerinduan.

“Oh, iyakah? Sejenis apa ini?” Kutengok isi tas plastik itu, sepintas seperti lontong.

“Ini nasi dimasak santan dikasib kunyit dan garam, seperti nasi kuninglah, tapi agak lembek, dibungkus daun pisang trus dikukus, kayak lontong.”

“Kangen, masakan sana, tadi telpon kakak yang di Sulawesi, minta resep burasa langsung bikin.”

“Oh, alhamdulillah, senangnya, bisa buat sahur, jazakillah ya Bun.” Ujarku gembira dapat rizki nomplok makanan khas Sulawesi.

“Iya Mbak, disana emang Burasa buat menyambut hari besar agama Islam, termasuk Ramadhan dan Idul Fitri.” Sahut bu Yeti antusias.

“Oya, kami pamit dulu ya.” Bu Yeti dan anaknya pun pamit.

Hmmm, hidup saling menyayangi itu indah ya. Bu Yeti baru dua tahun ini tinggal di Kediri dengan kelima putra putrinya, beliau pindah karena memang suaminya asli Kediri.


Setelah Bu Yeti pulang, tidak menunggu sahur satu biji burasa sudah lep, dimakan Ayahnya anak-anak, padahal masih panas.

Auto penasaran, selesai menuntaskan masakan, gadget yang dari tadi bersandar manis, langsung kupijit-pijit, kepo maksimal mencari tahu tentang burasa.


Mengenal Burasa

Burasa adalah salah satu panganan khas masyarakat Bugis dan Makassar. Panganan ini dikenal juga dengan nama lapat, atau lontong bersantan atau buras. Bentuknya hampir mirip dengan lontong cuma agak pipih dan dimasak dengan cara tersendiri.

Burasa di perkirakan muncul di abad 16 – 17 setelah ketupat di perkenalkan Sunan Kalijaga Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, menyatakan ketupat adalah simbol perayaan hari raya Islam di Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15.

Di Sulawesi Tengah burasa berawal dari makanan suku kaili pedalaman abad ke 17 dimana masyarakat kaili nomaden saat itu dalam mengelola makanan masih terfokus pada 2 tipe cara memasak yaitu bakar dan rebus yang hasil olahan makanannya mampu bertahan sampai seminggu.

Awalnya makanan pra sejarah di sulawesi masih di dominasi umbi umbian, buah buahan dan biji bijian, kemudian masuk pada pengelolaan batang tumbuhan dan daun yang diolah oleh suku suku raranggonau seperti sagu, setelah itu masuknya padi di kerajaan sigi. Burasa merupakan makanan yang terbuat dari beras, santan kelapa yang dibungkus dengan daun Jalanipa (dalam bahasa rai = daun yang bentuknya memanjang tahan terhadap panas) di awal abad ke 18 masuknya budaya selatan burasa mengalami perubahan, yaitu menggunakan daun pisang yang mengikuti tampilan makanan mandura.

Burasa dalam artian Kaili rai diambil dari 2 suku kata yaitu Bura/nevura/nebura = berbusa, menyembur dan Rasa /narasa = enak, mungkin orang tua dahulu menamakan burasa diambil dari proses memasaknya dengan cara merebus di belanga tanah, sehingga air rebusan berbusa atau menyembur. Burasa juga diyakini merupakan salah satu makanan kerajaan yang ada di Sulawesi Tengah, ada juga yang menganggap burasa merupakan makanan pada zaman perang melawan belanda, pada awal abad 19 burasa sering disajikan dalam perayaan perayaan keagamaan khususnya di Sulawesi Tengah.

Wao, setiap kuliner khas daerah itu selalu ada sejarahnya. Sayangnya cara memasak yang lama, membuat generasi muda enggan untuk melestarikannya. Gumamku pelan sambil mengusap muka.

RumahMediaGrup/endahsulis1234