Bersamamu Dengan Doa

Bersamamu Dengan Doa

“Bun, Ayah mau bicara penting!”

Ucapan suamiku berhasil membuatku mendongak. Ia yang berdiri di hadapanku, dengan wajah tenang menatapku.

“Bicara soal apa, Yah?” tanyaku penasaran. Tak biasanya ia ingin mengatakan sesuatu hal yang penting dengan pernyataan seperti itu.

Ia selalu to the point, tanpa basa-basi. Dengan tenang ia duduk di hadapanku. Aku hanya menunggu kelanjutan ceritanya.

“Ayah ditugaskan menangani pasien corona di rumah sakit pemerintah.”

Bak Godam menghantam dada, aku terkulai lemas. Egoiskah aku jika aku lebih memilih jangan suamiku yang harus menangani pasien corona?

Hening.

“Maaf, Bunda, Ayah langsung menyetujui permintaan kepala rumah sakit untuk dipindahkan ke rumah sakit pemerintah dan menjadi dokter yang menangani pasien corona. Di sana kekurangan tenaga medis untuk menangani pasien positif dan pasien dalam pengawasan.”

Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Jika suamiku menjadi garda terdepan dalam menangani pasien corona, berarti dia harus siap dengan segala resikonya. Lalu, bagaimana nasibku dan kedua putri kembar kami, Alika dan Alina?

Selama ini, suamiku sebagai tulang punggung keluarga. Aku yang hanya ibu rumah tangga biasa, tak pernah sekali pun bekerja atau mencari nafkah.

Sejak pertama menikah, suamiku hanya ingin aku menjadi ibu rumah tangga yang baik di rumah. Mengurus semua kebutuhannya, apalagi setelah anak kembar kami lahir, otomatis kesibukanku mengurus suami dan anak-anak menyita waktuku.

Jika suamiku benar-benar memutuskan untuk bertaruh jiwa raga dalam menjalankan tugasnnya sebagai seorang dokter, haruskah aku merasa keberatan? Pantaskah aku mengeluh untuk jangan memilih tugas itu?

Air mataku merembes perlahan. Antara takut, risau, dan sedih menjadi satu. Suamiku adalah dokter spesialis penyakit dalam. Meski di usianya yang masih tiga puluh delapan tahun, tapi ia sudah malang melintang menyelamatkan banyak nyawa selama mengabdikan diri di rumah sakit swasta di daerah kami.

“Ayah tahu Bunda tak setuju, tapi Ayah mohon, ikhlaskanlah Ayah untuk berjuang.”

“Bunda hanya sedih, Bunda dan anak-anak akan kehilangan waktu bersama Ayah selama pandemi ini berlangsung.”

“Kalian tak akan kehilangan Ayah. Meski setelah ini, Ayah tak bisa sedekat biasanya dengan kalian. Tapi percayalah, setelah semua ini berakhir, kita akan kembali berkumpul lagi seperti sebelumnya. Tolong doakan Ayah.”

Kembali genangan air itu tertumpah membasahi kedua pipi. Tak bisa kubendung, walau ingin kukubur saja bersama rasa sedih.

Suamiku beranjak dari duduknya, lalu ia menghampiri dan berjongkok di depanku.

“Tolong bantu Ayah menjelaskan pada anak-anak, jika tugas Ayahnya mulai besok akan lebih berat dari biasanya.”

Aku hanya mengangguk. Ia berdiri kemudian memelukku sembari mencium puncak kepalaku. Aku memeluknya erat. Tangisku pun pecah.

“Maafkan Ayah, Bunda.”

Tak ada yang perlu dimaafkan, suamiku. Itu sudah menjadi tugasmu. Kewajibanmu sebagai seorang dokter untuk menjadi garda terdepan dalam mengatasi korban virus yang tengah mewabah di negeri ini.

Aku hanya emosi sesaat sebagai seorang istri yang suaminya hendak berjuang di medan laga, memberantas pandemi yang menakutkan bagi setiap orang. Meski untuk itu, kami harus siap pula menjaga jarak denganmu.

Sekarang giliranku, bertugas memberi pengertian pada anak kembar kita yang masih berusia dua belas tahun untuk bisa memahami, jika ayah mereka sebagai abdi negara harus siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter, termasuk menangani pasien pandemi corona.

Aku ikhlas.

Engkau adalah harapanku dan anak-anak. Jutaan orang menggantungkan harapan pula padamu. Semoga kau selalu dalam keadaan sehat. Allah akan menjagamu untuk kami.

Kami akan selalu menunggumu pulang dengan sambutan tawa yang akan menguatkanmu. Meski kebersamaan kita tak lagi seperti hari-hari kemarin, tapi setidaknya kami masih bisa melihatmu. Jagalah dirimu selalu, kami selalu bersamamu dengan doa.

rumahmediagrup/bungamonintja

2 comments

Comments are closed.