Bersedekah di Saat Sempit

Bersedekah di Saat Sempit

“Nanti kalau aku punya banyak uang, akan disedekahkan bagi orang-orang miskin. Tapi, sekarang nggak dulu bersedekahnya. Belum punya uang lebih. Cuma cukup buat makan sehari-hari saja. Itupun menu sederhana.”

Pada umumnya, dari kita, seringkali merasa sayang bila dalam kondisi keuangan yang pas-pasan bahkan cenderung kurang, menyempatkan diri untuk bersedekah. Pasti dalam pikiran kita yang terbetik adalah, untuk sehari-hari saja masih kurang, terus diberikan untuk berinfak atau sedekah? Lebih baik mendahulukan keluarga dan anak-anak daripada orang lain.

Begitu, bukan?

Ada suatu cerita. Kisah nyata. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib ra pulang dari pasar menuju ke rumahnya sambil membawa makanan untuk anak dan istrinya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pengemis yang belum makan berhari-hari. Tanpa pikir panjang, Ali segera memberikan makanan yang dibawanya itu kepada sang pengemis. Ia iba melihat kondisi tubuh pengemis yang kurus dan lemah.

Sesampainya di rumah, Ali bin Abi Thalib ra menemui anak dan istrinya lalu menceritakan apa yang terjadi saat di jalan. Fatimah ra dan anak-anaknya tidak marah apalagi kecewa karena hari itu mereka tidak makan. Mereka memilih bersabar dan berpikir bahwa pengemis yang ditemui oleh Ali lebih membutuhkan makanan. Subhanallah.

Tak berapa lama, pintu rumah mereka diketuk. Rupanya datang sahabat Salman Al Farisi ra yang membawakan titipan dari Rasulullah SAW untuk keluarga Ali. Saat dibuka, ternyata isinya adalah makanan yang cukup banyak untuk dimakan oleh sekeluarga dan untuk esok hari. Alhamdulillah. Allah SWT langsung memberikan ganti hari itu juga.

Contoh kisah tersebut adalah bukti kekuatan iman kepada Allah SWT. Ketika kita hanya memiliki sedikit saja uang atau makanan, tetapi ternyata ada orang lain yang lebih membutuhkan, maka keimanan yang akan berbicara. Iman akan selalu menggerakkan hati kita untuk memiliki rasa peduli terhadap sesama saudara yang kesusahan. Sekalipun kita harus mau berkorban. Itulah indahnya ukhuwah Islamiyah di zaman Rasulullah SAW.

Bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkah meneladani sikap para sahabat dan orang-orang beriman tersebut dengan tanpa mengatakan “tapi”? Sudahkan kita benar-benar ingat untuk bersedekah dan berinfak ketika benar sedang berlimpahan harta? Sebab ada kalanya kita terlupa. Seringnya ketika memiliki uang, maka yang kita alokasikan adalah untuk makan dan kebutuhan lainnya. Bila ada sisa, baru disedekahkan. Bila tak ada sisa, ya tidak jadi lagi sedekahnya.

Bukankah sebaiknya infak dan sedekah yang didahulukan pertama kali? Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang berharga, maka harus mau mengorbankan yang kita punya untuk bisa mendapatkan hal yang berharga tersebut. Mana mungkin kita membeli sebuah barang yang bagus, mahal tetapi dengan uang yang sedikit atau pas-pasan dan berupa sisa?

Jadi jangan menunggu kaya dulu baru beramal. Bila maut lebih dahulu datang menjemput sebelum menjadi orang kaya, maka apa yang akan kita bawa sebagai bekal di akhirat kelak? Bukankah lebih baik berbuat sedari sekarang? Bersedekah sekalipun di saat sempit.

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah