Bersyukur

Bersyukur

Normalnya, manusia itu bersyukur ketika diberi kebahagiaan dan kesenangan, bukan? Saat diberi limpahan ilmu dan materi, pasti yang dilakukan adalah bersukacita dan bersyukur. Memuji-muji-Nya tiada henti. Menganggap semua limpahan suka cita tersebut adalah hadiah, bonus.

Sebaliknya, bila kita ditimpa ujian maupun musibah, apa yang kita ucapkan? Innalillahi, astagfirullah, begitu bukan? Itu bagi yang masih mengingat-Nya. Tetapi bagaimana dengan mereka-mereka yang tidak dekat apalagi ingat pada-Nya?

Tentunya saat menerima ujian atau musibah, akan bersedih dan untuk di tingkat penyangkalan lebih lanjut, akan meratapi nasibnya dan bertanya, “Kenapa aku, Tuhan?”

Jangankan bersyukur, berpikir positif pun jarang terjadi bukan? Merasa susah, menderita sendiri. Merasa terpuruk dan frustasi.

Sebenarnya, tujuan Allah memberikan ujian adalah untuk melihat sejauh mana kadar keimanan yang kita miliki. Akankah tetap bersyukur sekalipun bukan bahagia yang diberikan-Nya? Dapatkah menerima dengan hati yang lapang dan kesabaran yang tiada batas saat jiwa terhimpit ujian dan masalah?

Maka sebaiknya, saat ditimpa suatu kemalangan, perbanyaklah bersyukur. Bersyukur masih diingatkan oleh-Nya. Bersyukur bahwa masih ada rasa iman, kesabaran dan keikhlasan saat menjalani dan menerima ujian dari-Nya. Bersyukur dengan berpasrah diri pada-Nya, Sang Pemberi takdir baik dan buruk.

Mari besyukur apapun yang diberikan oleh-Nya. Bila kita senantiasa bersyukur dalam berbagai kondisi, bukan tak mungkin Dia akan menambah nikmat-Nya dengan menggugurkan dosa-dosa kita, menambah pahala dan meningkatkan derajat di hadapan-Nya menjadi lebih mulia, lebih dan lebih lagi.

Hidup takkan selamanya dirundung duka dan kesusahan. Yakinlah bahwa semua akan mengalami pergantian masa. Kewajiban kita hanyalah menjalani skenario hidup dari-Nya dengan tawakal.

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah