Bertanyalah, Nak….

Sumber gambar : dokumentasi pribadi

Bertanyalah, Nak….

Ibu bertanya melalui kelas daring grup WA, ”Ada pertanyaan dari materi yang sudah Ibu sampaikan?”. Dan jujur Ibu tidak mengetahui siapa saja yang sudah membaca materi, materi yang sudah dibagi, siapa saja yang sudah memahami. Ibu tidak bisa melihat mata kalian, paham atau tidak, Ibu tak paham, Nak…

Jawab si anak, “ Ibu, aku diam bukan tidak memahami, aku diam bahkan karena di kepalaku ini banyak sekali beribu-ribu pertanyaan.”

“Bertanyalah, kalau ada yang ingin kau ketahui lagi,”

“Kata semua dosen begitu Ibu, apa peduli mereka. Saya tanya atau tidak?”

“Apa kata mereka saat kau banyak bertanya?” Bukankah bertanya itu bukan ciri orang yang bodoh. Tapi kau selalu saja terjerumus berpikir bahwa bertanya apa gunanya? Kenapa harus bertanya?.

Justru, pertanyaan-pertanyaan dalam kepalamu itu jika tak kau sebutkan maka akan membeku bersama egomu. Membusuk bersama kemalasanmu dalam membaca dan mencerna kata. Berpikirlah, nak…bertanya itu tanda kau serius belajar. Kau haus penjelasan. Dan tanda kau pintar.

“Kalau begitu, bolehkah kami banyak bertanya Ibu?”

“Tentu saja, Ibu dengan senang hati akan menjawabnya”

“Ibu, mengapa dosen malah-marah atau memberikan jawaban yang singkat, ketus seakan kami tidak serius dalam bertanya?”

“Sebab, kadang menjawab pertanyaan itu merepotkan. Mereka tidak punya jawaban. Bukan tidak mau menjawab, tapi kadang jawaban itu harus diuraikan dengan benar. Agar kau tak salah paham. Kadangpun, kau malas berusaha mencari tahu. Dosenmu itu kamu jadikan satu-satunya sumber jawaban atas pertanyaanmu,”

“Lalu, kami malas bertanya Ibu.”

“Bertanyalah, buatlah pertanyaan atas apa yang sudah kau ketahui. Baca materi, lalu pahami. Diskusikan dengan bacaan lainnya. Lalu, diskusikan di kelas. Bukan bertanya apa-apa yang tidak kamu ketahui sama sekali. Tetapi, buatlah pertanyaan dari hasil diskusi yang kau ramu dalam pikiranmu sendiri. Baru itu kritis namanya.”

“Jadi, bertanya itu wajib bagi yang sudah meramu pemahaman atas bacaan dan pengetahuan yang ia lakukan?”

“Betul, bertanyalah, buatlah dirimu haus akan pengetahuan.”

Bertanyalah nak, tapi jangan suka-suka bertanya. Seriuslah. Mulai besok, berjanjilah pada Ibu. Bacalah dulu materinya, lalu pahami, telaah dan diskusikan dengan bacaan lain atau pengetahuanmu. Lalu, jika kau temukan hal yang merisaukanmu maka catatlah. Besok tanyakan pada Ibu. Kita akan diskusikan bersama.

Senangnya kelas daring, walau mengajar tanpa melihat langsung mata kalian. Tapi, Ibu masih bisa berharap, mengetahui pemahamanmu melalui pertanyaan-pertanyaanmu.

Bertanyalah, nak…..

rumahmediagrup/Anita Kristina

One comment

Comments are closed.